“MENELISIK” PLUS MINUS KEBERADAAN TPST PROVINSI DKI JAKARTA DI KOTA BEKASI

Jawa Barat – (SIN) – Pelakat kotor,kumuh dan menjijikan serta amburadul melekat pada sebuah wilayah yaitu Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi dan sekitarnya ketika anda mengunjungi areal jalan raya narogong pangkalan lima saja ternyata benar dari aroma terendus bau busuk sepanjang jalan angkutan truk sampah menuju areal TPST terbesar dan paling menakutkan dengan menjulangnya gunung sampah diatas areal tanah 132.5 Ha terbagi beberapa zona titik areal buang sampah dari warga masyarakat Jakarta sejak tahun dibangun dan dioperasikkan yaitu 1989.

 

“Saat ini kondisi per-16 Januari 2023 zona pembuangan sudah sangat mengkhawatirkan keberadaannya dengan kasad mata dapat dilihat ketinggian gunung sampah mencapai 40-50 M dengan ketinggiannya yang kerapkali mengancam terjadi longsor disaat penghujan dan kebakaran hebat seperti kejadian pekan lalu. Impor sampah yang mencapai 7.500-7.800 ton/hari dingkut armada sampah sebanyak 1.300 nonstop 24 jam dengan titik buang 4 zona terus rutinitasnya dan pasti tambah subur gunung sampah yang terindikasi lewati titik “Amdal”,Ungkap Ketua KPNas Bagong Suyoto kepada media SIN diruang kerjanya 03/11/23.

 

” Belum lagi dengan sarpras seperti Jalan,Drainase Dan TPS (Tembok Penahan Sampah,red) yang ambrol karena diduga salah bestek diawal pembangunannya,ironis memang kekuatan dana APBD Provinsi DKI Jakarta yang digulirkan ke TPST pertahunnya lewat Dinas KLHK hanya merupakan Projeck Polutical merupakan kepentingan pihak tertentu saja menjadikan ajang bagi bagi dikalangan Dinas dan Elite.” Ujarnya

 

Ditambahkan Dia,”Pemerintah Kota Bekasi mendapatkan kemitraan pertahunnya sekitar Rp. 450 M – 602 M dan masih dirasa kurang,dengan adanya permintaan 1 Miliar yang digagas Pj Wali Kota Tri Adhianto untuk masuk mampu mendongkrak KPD (Kas Pendapatan Daerah) hall tersebut dilengkapi dengan TIM MONEV yang memonitoringnya.’ Pungkasnya

 

Selaras kegiatan pekan ini berdiskusi dengan rekan rekan journalis yaitu “Rujuk” di kedai kopi pekan ini,Bagong Suyoto berharap ada kesimpulan akhir agar ada metode program kedepannya untuk masyarakat warga Kelurahan Sumurbatu,Ciketingudik,Cikiwul khususnya dan umumnya wilayah sekitar yang terkena dampak keberadaan TPST Bantrgebang ini dengan “Plus-Minus” nya.

 

Penulis : Yatmono

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *