Membela Kartini Masa Kini, Muhamad Ishaac, S.Pd.I: Pendidikan Karakter Harus Jadi Pilar Perlindungan Perempuan

Kotawaringin – (SIN) – 21 April 2025 Peringatan Hari Kartini kembali menjadi momen reflektif untuk menyuarakan kepedulian terhadap kondisi perempuan Indonesia. Dalam konteks maraknya kasus kekerasan seksual dan diskriminasi struktural terhadap perempuan, suara moral dari para pendidik, tokoh masyarakat, dan pembuat kebijakan menjadi penting. Salah satu suara yang lantang menyuarakan hal ini adalah Muhamad Ishaac, S.Pd.I., seorang pakar pendidikan karakter dan Guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Pangkalan Bun yang mendorong agar pendidikan karakter menjadi fondasi utama dalam upaya perlindungan perempuan.

“Pendidikan karakter tidak bisa hanya menjadi jargon. Ia harus hidup dalam keseharian anak-anak dan masyarakat. Kita perlu membangun bangsa yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tapi juga matang secara moral dan empatik,” ujar Ishaac dalam pernyataan khususnya di Hari Kartini, Senin (21/4).

Menurut Ishaac, Hari Kartini tidak boleh diperingati hanya sebagai seremoni ataupun kebaya belaka. Esensi perjuangan Kartini adalah membuka ruang berpikir, berdaya, dan bermartabat bagi perempuan. Oleh karena itu, tantangan saat ini bukan sekadar membuka akses pendidikan, tetapi menjamin lingkungan sosial yang aman, setara, dan adil bagi perempuan.

Kekerasan Seksual: Luka yang Terus Terbuka

Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa sepanjang 2023 terjadi 401.975 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 4.000 kasus merupakan kekerasan seksual. Yang mengkhawatirkan, sebagian besar korban adalah anak dan remaja perempuan, dan pelakunya sering kali berasal dari lingkungan terdekat korban.

“Kekerasan seksual bukan sekadar kejahatan fisik. Ia menghancurkan rasa aman, kepercayaan diri, bahkan masa depan korban. Ini adalah bentuk pelanggaran hak asasi yang paling keji,” tegas Ishaac.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa sistem pendidikan saat ini belum sepenuhnya responsif terhadap isu-isu kekerasan seksual. Banyak sekolah yang belum memiliki protokol perlindungan anak dan tidak melibatkan pendidikan nilai secara mendalam dalam kurikulum.

Karakter sebagai Tembok Pelindung

Dalam perspektif pendidikan karakter, Ishaac menekankan bahwa nilai-nilai seperti empati, kesadaran gender, integritas, dan tanggung jawab sosial harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan tidak boleh hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan budi pekerti.

“Kita butuh kurikulum yang tidak hanya mengajarkan matematika atau IPA, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang menghargai sesama, menghormati batasan, dan membela yang lemah,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan karakter harus dimulai dari rumah dan diperkuat di sekolah. Guru memiliki peran strategis untuk membentuk pola pikir dan perilaku anak didik. Karena itu, pelatihan guru dalam pendekatan pendidikan karakter dan kesadaran gender perlu menjadi prioritas nasional.

UU TPKS: Langkah Maju yang Perlu Diperkuat

Muhamad Ishaac juga mengapresiasi hadirnya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) yang telah disahkan pada 2022. Namun ia mengingatkan bahwa regulasi hukum hanya akan efektif jika dibarengi dengan transformasi budaya dan karakter masyarakat.

“Undang-undang adalah payung hukum, tetapi karakter adalah pagar moral. Tanpa karakter, hukum bisa lumpuh. Tanpa budaya yang berpihak pada korban, hukum bisa menjadi formalitas,” ujarnya.

Ia mendorong agar pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat aktif menyosialisasikan UU TPKS serta mendampingi korban secara komprehensif. Pendidikan karakter di sekolah juga harus selaras dengan semangat undang-undang ini, bukan hanya dalam narasi, tapi juga praktik sehari-hari.

Kartini Baru dalam Tantangan Zaman Baru

Dalam konteks perubahan zaman dan tantangan digital, perempuan saat ini menghadapi bentuk kekerasan yang lebih kompleks, termasuk kekerasan seksual berbasis digital (KSBD). Menurut catatan Komnas Perempuan, KSBD menduduki peringkat tertinggi dalam laporan kekerasan seksual.

“Anak-anak perempuan hari ini tidak hanya terancam secara fisik, tapi juga secara psikologis melalui gawai di tangan mereka. Maka pendidikan karakter digital juga penting. Kita harus membekali anak-anak dengan kecakapan digital yang etis dan beradab,” ungkap Ishaac.

Ia menekankan bahwa Kartini masa kini adalah perempuan yang sadar hak, berani bersuara, dan didukung oleh lingkungan yang adil dan manusiawi. Untuk mewujudkan itu, seluruh komponen bangsa harus bersatu membangun iklim pendidikan yang berpihak pada pembebasan dan perlindungan perempuan.

Pendidikan Karakter sebagai Gerakan Nasional

Sebagai penutup, Muhamad Ishaac menyerukan agar pendidikan karakter tidak diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti dari reformasi pendidikan nasional. “Kalau kita ingin melihat Indonesia Emas 2045, maka mulai hari ini kita harus pastikan anak-anak kita tidak hanya pintar, tapi juga punya nurani,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar Hari Kartini dijadikan momentum tahunan untuk evaluasi nasional terhadap kondisi perempuan, khususnya dalam hal perlindungan dan pendidikan. “Semangat Kartini harus hidup dalam kebijakan, dalam ruang kelas, dan dalam hati setiap anak bangsa, Selamat Hari Kartini 2025, semoga spirit Kartini selalu mewarnai karakter bangsa” pungkasnya.

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

35 Komentar