LAMPUNG TENGAH – (SIM) – Fenomena sekolah yang mengunggah capaian nilai tinggi peserta didik pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) di media sosial memicu perdebatan di kalangan masyarakat dan pegiat pendidikan. Di berbagai platform digital, publik terbelah antara yang menilai publikasi tersebut sebagai bentuk apresiasi prestasi siswa dan mereka yang menganggapnya berpotensi menimbulkan dampak psikologis bagi peserta didik lain.
Perdebatan itu mengemuka setelah akun Facebook milik pemerhati pendidikan, Sahril Avivi, mengunggah pandangan yang mengajak sekolah untuk tidak mempublikasikan nilai tertinggi TKA secara berlebihan.
“Stop posting nilai tertinggi TKA. Cukup diumumkan dan diinformasikan kepada siswa, tidak perlu sampai diposting di media sosial,” tulisnya dalam Grup Facebook Info Kemendikbud.
Menurut Sahril, publikasi yang hanya menonjolkan siswa dengan nilai tertinggi dapat membuat peserta didik lain yang nilainya belum optimal merasa kurang dihargai. Ia menegaskan bahwa TKA hanya mengukur sebagian aspek kecerdasan, sementara keberhasilan seseorang ditentukan oleh banyak faktor lain.
Unggahan tersebut kemudian memantik ratusan tanggapan dari warganet. Sebagian besar berpendapat bahwa publikasi nilai tinggi merupakan hal yang wajar sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi siswa.
Salah satunya disampaikan akun Mas Boer yang menilai setiap capaian siswa layak mendapatkan apresiasi, sebagaimana prestasi di bidang olahraga, seni, maupun kompetisi akademik lainnya.
“Setiap murid yang berprestasi wajib diapresiasi. Selain itu, publikasi nilai TKA juga dapat menjadi sarana promosi sekolah dan mengajarkan anak untuk berkompetisi dalam kehidupan nyata,” tulisnya.
Pandangan serupa juga disampaikan sejumlah netizen lainnya. Mereka menilai siswa perlu dibiasakan menerima hasil, menghargai keberhasilan orang lain, serta menjadikan capaian teman sebagai motivasi untuk berkembang.
Namun di sisi lain, terdapat pula komentar yang mengingatkan bahwa tujuan utama TKA sejatinya adalah memetakan mutu pembelajaran, bukan menjadi ajang perlombaan individu. Beberapa netizen bahkan menilai fokus berlebihan pada nilai tertinggi dapat menggeser esensi pendidikan itu sendiri.
PENDIDIKAN HARUS MENGHARGAI SEMUA POTENSI
Menanggapi polemik tersebut, Ketua DPD Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) Kabupaten Lampung Tengah, Hariyadi, yang akrab disapa Cak Har, mengajak seluruh pihak melihat persoalan ini secara lebih bijak dan proporsional.
Saat ditemui di Gunung Sugih, Minggu (31/5/2026), Hariyadi mengatakan sekolah memiliki hak untuk menyampaikan capaian dan prestasi peserta didiknya kepada masyarakat. Namun ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi persoalan angka dan hasil ujian.
“Prestasi siswa yang memperoleh nilai tinggi tentu patut diapresiasi. Itu adalah hasil kerja keras siswa, guru, dan dukungan orang tua. Tetapi jangan sampai publikasi tersebut membuat kita lupa bahwa tujuan pendidikan jauh lebih luas daripada sekadar mengejar nilai,” ujarnya.
Sosok Hariyadi sendiri dikenal aktif memperjuangkan penguatan pendidikan masyarakat dan pendidikan kesetaraan di Lampung Tengah. Sebagai Ketua SP2MI, ia kerap menyuarakan pentingnya pendidikan yang inklusif, menghargai keberagaman potensi peserta didik, serta berorientasi pada pembentukan karakter.
Menurut Cak Har, keberhasilan pendidikan harus dilihat secara menyeluruh, mencakup aspek akademik, karakter, keterampilan hidup, hingga proses belajar yang dijalani peserta didik sehari-hari.
Ia menilai sekolah perlu memberikan ruang apresiasi tidak hanya kepada siswa dengan nilai tertinggi, tetapi juga kepada mereka yang menunjukkan perkembangan positif, kedisiplinan, kreativitas, kepemimpinan, maupun ketekunan dalam belajar.
“Jangan sampai anak-anak yang nilainya belum tinggi merasa tersisih atau kurang dihargai. Setiap peserta didik memiliki kelebihan yang berbeda. Tugas sekolah adalah mengembangkan seluruh potensi itu secara seimbang,” katanya.
JADIKAN MOTIVASI, BUKAN AJANG PERSAINGAN BERLEBIHAN
Lebih lanjut, Cak Har berharap publikasi capaian akademik dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi siswa lain untuk terus belajar, bukan menjadi sarana persaingan yang berlebihan antar sekolah maupun antar peserta didik.
Menurutnya, budaya belajar yang sehat harus dibangun di atas semangat bertumbuh bersama, bukan semata-mata mengejar pengakuan melalui angka.
“Yang terpenting adalah bagaimana sekolah membangun budaya belajar yang sehat. Nilai tinggi memang membanggakan, tetapi proses, integritas, dan karakter peserta didik tetap harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memanfaatkan hasil TKA sebagai bahan evaluasi dan perbaikan mutu pembelajaran di sekolah.
“Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu mengantarkan setiap anak berkembang sesuai potensinya. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang siswa tidak hanya ditentukan oleh angka yang tertera di lembar hasil ujian,” pungkasnya.
Perdebatan mengenai publikasi nilai TKA kemungkinan akan terus berlangsung. Namun satu hal yang menjadi titik temu berbagai pandangan adalah pentingnya memastikan setiap anak mendapatkan penghargaan atas proses belajar yang telah mereka tempuh, sekaligus tetap menumbuhkan semangat untuk meraih prestasi terbaik. (red)






F8bet nơi quy tụ những game show nổi bật nhất năm 2026