Kepulauan Tanimbar – (SIN) – Sumur bor di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, yang sempat menuai protes dari sebagian masyarakat, kini justru menjadi salah satu sumber air bersih yang paling diandalkan warga.
Pembangunan sumur bor tersebut sebelumnya sempat menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Sejumlah warga kala itu mempertanyakan efektivitas proyek yang menggunakan Dana Desa tersebut serta manfaat yang akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan sumur bor itu kini mulai membuktikan manfaat nyata bagi kebutuhan air bersih warga.
Saat musim kemarau maupun ketika sumber air lainnya mengalami penurunan debit, sumur bor tersebut tetap mampu menyediakan pasokan air bagi masyarakat. Kondisi ini membuat banyak warga yang sebelumnya ragu kini mulai memanfaatkan fasilitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Seorang ibu rumah tangga, Damasena Yabarmase’Rabu (24/6/2026)
mengaku bahwa keberadaan sumur bor sangat membantu masyarakat, terutama bagi keluarga yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih.
“Kalau dulu banyak yang ragu, sekarang kami masyarakat sudah merasakan sendiri manfaatnya. Air ini sangat membantu untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
Keberadaan sumur bor tersebut juga dinilai mampu mengurangi beban warga yang sebelumnya harus menunggu antrian dengan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan air bersih. Aktivitas mengambil air yang biasanya memakan waktu dan tenaga kini dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Sekretaris desa ‘Aloysius Melwatan’ yang dihubungi terpisah mengatakan agar fasilitas tersebut dapat terus dijaga dan dimanfaatkan secara bersama-sama oleh masyarakat.Selain itu, perawatan berkala terhadap instalasi sumur dan sarana pendukung lainnya juga menjadi hal penting agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, ‘Melwatan’ menjelaskan bahwa saat ini melalui Dana Desa tahun anggaran 2026 pemerintah desa sudah anggarkan untuk pengadaan meteran, dan direncanakan pada tahun anggaran 2027 jika Dana Desa mencukupi maka akan ada peningkatan instalasi seperti pemasangan hidran dan profil dimasing masing RT, ujar Melwatan.
Salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD)’ Yerimias Awear’ yang sempat ditemui mengatakan bahwa polemik yang sempat terjadi menjadi pelajaran bahwa setiap program pembangunan membutuhkan waktu untuk membuktikan manfaatnya. Menurutnya, perbedaan pendapat pada awal pembangunan merupakan hal yang wajar, namun yang terpenting adalah hasil yang dirasakan masyarakat.
Kini, sumur bor di desa Sangliat Krawain tidak lagi dipandang sebagai proyek yang dipertanyakan, melainkan sebagai salah satu solusi atas kebutuhan air bersih masyarakat. Fasilitas yang dahulu menuai kritik itu perlahan berubah menjadi harapan bagi warga yang selama ini menghadapi keterbatasan akses air bersih.
Dengan manfaat yang mulai dirasakan secara nyata, masyarakat berharap keberadaan sumur bor tersebut dapat terus dipelihara dan jika ada anggaran perlu ditambah dan menjadi contoh bahwa pembangunan infrastruktur dasar yang tepat sasaran mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan warga.
(dp)






