Modal Tanam Cabe dari Pinjaman, Tanaman Diterjang Luapan Air Sungai Petani Cupak Kini Cemas

Solok – (SIN) – Hujan deras mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Solok, Sabtu (19/9/2026). Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan debit air Sungai Rotan meningkat hingga meluap dan menggenangi lahan pertanian warga di Jorong pasa Baru Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang.

Luapan Sungai Rotan tersebut membawa dampak bagi petani yang menggantungkan penghasilan dari lahan di sekitar aliran sungai. Salah satunya “Anjas” petani cabai dan tomat yang kini harus menghadapi kerusakan tanaman yang cukup parah, setelah hampir tiga bulan dirawat.

Menurut Anjas, tanaman cabai dan tomat tersebut sudah mau panen, Namun musibah datang menimpa dirinya hingga tidak menyisakan satu batang pun tanaman.

Dan ini merupakan usaha yang membutuhkan modal cukup besar. Biaya telah dikeluarkan sejak pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk hingga perawatan selama masa tanam.

“Tanaman ini sudah saya rawat sekitar tiga bulan. Modal yang sudah saya keluarkan mulai dari pengolahan lahan, bibit, pupuk dan biaya lainnya. Kerugian saya perkirakan mendekati Rp50 juta,” ujar Anjas.

Kondisi tersebut semakin berat karena sebagian modal yang digunakan untuk bercocok tanam berasal dari pinjaman kepada teman dan kerabat. Dengan rusaknya tanaman sebelum memasuki masa panen, Anjas kini tidak hanya kehilangan harapan memperoleh hasil, tetapi juga harus memikirkan bagaimana mengembalikan modal yang telah dipinjam.

“Melihat kejadian hari ini yang menimpa tanaman cabai dan tomat saya, saya bersama istri mulai cemas. Bagaimana nantinya saya melunasi utang biaya tanam ini dan bagaimana saya bisa memulai usaha kembali,” ungkapnya.

Bagi Anjas, persoalan tersebut bukan sekadar kerusakan tanaman akibat hujan dan luapan sungai. Kerusakan lahan berarti hilangnya modal yang telah ditanam selama berbulan-bulan, sementara kewajiban membayar pinjaman tetap berjalan.

Ia berharap kondisi yang dialaminya mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Solok, khususnya dinas terkait.

“Kami berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Solok atau Dinas Pertanian terhadap nasib kami sebagai petani,” harapnya.

Peristiwa meluapnya Sungai Rotan juga diharapkan menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan pendataan terhadap petani dan lahan pertanian yang terdampak. Selain penanganan terhadap kerugian petani, kondisi aliran sungai dan langkah mitigasi perlu menjadi perhatian agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Solok maupun Dinas Pertanian terkait pendataan kerugian dan langkah penanganan bagi petani terdampak.

{LJ}

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *