KPK Minta Alat Canggih untuk OTT, Eks Penyidik: Modus Koruptor Terus Berkembang

JAKARTA – (SIN) – Eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) Praswad Nugraha menyoroti permintaan KPK terkait peralatan yang canggih merupakan alasan yang relevan. Sebab, modus operandi para koruptor juga terus berkembang.

Hal itu disampaikan Praswad merespons pernyataan Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto terkait butuh anggaran guna pembaruan alat, termasuk untuk kepentingan operasi tangkap tangan (OTT).

“Berkembangnya modus operandi dan dukungan alat komunikasi yang dimiliki koruptor tanpa diimbangi pembaharuan alat maka akan menghambat pelaksanaan OTT,” kata Praswad, Minggu (1/2/2026).

Praswad menilai, permintaan tersebut semestinya dipenuhi mengingat korupsi kerap kali digaungkan sebagai musuh bersama. “Dukungan alat tersebut juga merupakan representasi dari komitmen politik pemerintahan dalam pemberantasan korupsi,” ujarnya.

Praswad meyakini, jika hal tersebut dipenuhi maka akan lebih banyak lagi operasi senyap yang dilakukan Lembaga Antirasuah. “Kami optimistis, jika KPK diberikan dukungan alat yang lebih canggih, KPK dapat melaksanakan OTT setidak-tidaknya 30 kali per tahun,” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, KPK berharap mendapatkan anggaran yang besar. Anggaran ini untuk membeli alat canggih guna mempermudah melakukan Operasi Tangkap Tangan ( OTT ).

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto dalam rapat bersama Komisi III DPR di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Mulanya, Fitroh bicara hambatan paling besar yang dihadapi dalam melakukan OTT. Dia menyebut, salah satunya adalah alat yang dimiliki. “Apa sih sebenernya hambatan paling besar yang di KPK selain tentang SDM yang kurang? Ya berikanlah kami alat yang canggih, supaya OTT tidak hanya satu sebulan,” kata Fitroh.

Fitroh menyebut, peralatan yang ada saat ini kurang canggih. Bahkan, alat yang ada itu dikatakannya sudah ketinggalan zaman. “Kurang canggih, Pak, kurang canggih. Ini sudah tidak up to date.

Jadi kalau anggota Komisi III kasih anggaran besar buat beli alat, barangkali OTT (bisa) lebih masif,” ujarnya. (**)

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *