Kebumen Jawa Tengah – (SIN) – Karang Taruna Tunas Karya Muda, Pemuda Ansor, bersama lingkungan sekitar mengadakan halal bihalal dilapangan sekolah SDN3, di desa Ngabean kecamatan Mirit. kabupaten Kebumen. Bersama dengan seluruh masyarakat desa setempat, acara dilaksanakan sekitar pukul 19.30 wib sampai dengan selesai. Kegiatan acara tersebut guna menyambut hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah, yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, Kepala Desa, masyarakat sekitar, kyai Azil Ghozaili (Krubungan), kyai Fahim Ma’Arif (Jogosimo), dan Kyai Teguh Imam Giarto (Sruweng). Sabtu (07/05/2022).
Selanjutnya acara juga dimeriahkan dengan adanya hiburan musik hadroh yang dibawakan oleh Grup hadroh AL FAJAR Dalam acara tersebut, Kyai Fahim Ma’Arif (GUS FAHE) sebagai penceramah mengangkat tema Hikmah Halal Bihalal. Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa Ramadhan, kita dapat berjumpa kembali dalam suasana halal bihalal yang penuh kebahagiaan, penuh keberkahan dan yang lebih penting dari itu adalah bahwa kita telah memperoleh kemenangan melawan hawa nafsu selama kita menjalankan berpuasa Ramadhan.
Sunardi salah satu warga sekitar menjelaskan ke awak media SUARA INVESTIGASI NEWS terkait Halal bihalal, Secara bahasa, HALAL BI HALAL adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Dengan demikian dengan adanya acara halal bihalal diharapkan hubungan yang selama ini keruh dan kusut dapat segera diurai dan dijernihkan. Halal bihalal bermakna untuk kemanusiaan yang lebih sejuk dan menentramkan. Suasana Halal bihalal yang penuh dengan nuansa Religius, kekeluargaan dan keterbukaan membuat semua orang yang hadir tidak memiliki beban tertentu. Pada saat itulah komunikasi sehat bisa terbangun dengan baik.” Jelas Sunardi.
Halal bihalal bukan milik salah satu kelompok manusia, tetapi milik semua umat manusia. Semua anak cucu Adam yang bernama manusia adalah tempatnya salah dan dosa tapi sebaik baik manusia adalah yang mau bertaubat dan mau saling memaafkan. Kesalahan antar umat manusia sebelum ada ikrar saling mengikhlaskan maka Allah SWT tidak akan memberikan ampunan, oleh karena itu dibutuhkan adanya Halal bihalal.
Ibarat kain yang terkena tinta kemudian dibersihkan maka di pakai kembalipun pun akan terlihat bagus dipandang. Namun, saling memaafkan seyogyanya dilakukan setiap hari, bukan hanya pada moment-moment tertentu saja.” Tambahnya.
Di akhir penghujung pengajian Halal bihalal, acara tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Romo kyai Teguh imam Giarto bersama masyarakat beserta tamu undangan yang menghadiri.
(Sunardi)






