Blitar – (SIN) – SMP Negeri 1 Binangun secara konsisten membangun karakter peserta didik melalui rangkaian kegiatan positif yang dikemas dalam empat program unggulan rutin setiap hari Jumat, meliputi Jusisri (Jumat Bersih dan Asri), Julisos (Jumat Peduli Sosial), Jusegar (Jumat Sehat dan Segar), serta Jumanji (Jumat Beriman dan Mengaji).
Keempat program ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengutamakan pencapaian akademik, tetapi juga secara utuh membentuk kepedulian lingkungan, kepekaan sosial, pola hidup sehat, serta penguatan nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia.
Melalui program Jusisri, seluruh warga sekolah bersama-sama menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menanamkan kesadaran bahwa kebersihan bukan sekadar kewajiban, melainkan tanggung jawab bersama yang menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif.
Program Julisos hadir sebagai wadah penanaman nilai solidaritas. Peserta didik diajak memahami pentingnya berbagi, menolong sesama, dan peka terhadap lingkungan sosial di sekitarnya, sehingga tumbuh jiwa peduli yang tulus dan tulus.
Sementara itu, Jusegar mengarahkan perhatian pada kesehatan dan kebugaran tubuh. Peserta didik dibiasakan hidup sehat dan bugar, menyadari bahwa fisik yang prima adalah dasar untuk mengikuti pembelajaran secara optimal.
Adapun Jumanji menjadi pilar penguatan nilai spiritual. Melalui kegiatan keagamaan dan pembacaan Al-Qur’an, sekolah berupaya membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh keimanannya dan luhur akhlaknya.
Keempat program ini disatukan dalam momentum hari Jumat, sehingga setiap Jumat di SMPN 1 Binangun menjadi hari pembentukan kebiasaan positif secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Dengan pelaksanaan yang rutin dan berkelanjutan, SMPN 1 Binangun menegaskan visi pendidikan karakter yang menyeluruh: menghadirkan generasi yang cerdas, sehat, peduli, dan beriman. Sekolah berharap nilai-nilai yang ditanamkan tidak hanya mewujud di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan yang dibawa peserta didik ke tengah masyarakat.
(Tim)






