Jakarta – (SIN) – Etika refleksi jiwa,adalah ungkapan perasaan terhadap prilaku atau tindakan orang lain atau bahkan diri kita sendiri berdasarkan nilai-nilai budi pekerti di karenakan etika berasal dari kata etos yang berarti kebiasaan, pertanyaannya apakah seorang Joko Widodo dalam kebiasaan menjalankan kepemimpinannya selama ini melanggar etika, jawabannya tidak ada tindakan kebiasaan bahkan perilaku dari seorang Joko Widodo melanggar bahkan menghalalkan segala cara.
Seseorang bahkan kelompok pembenci membuat narasi bahwa etika ditujukan oleh seseorang karena ingin menunjukan dirinya lebih baik,terbukti sebaliknya bahwa seorang pembenci mengajak atau memaksa untuk menyerang seseorang yang tidak beretika apakah ini dibenarkan jawabannya, justru sebaliknya kelakar si pembenci yang akan menjurus melanggar etika tersebut. Karena sudah terbiasa dengan kebiasaan buruknya yaitu dengan cara membenci adalah perbuatan yang mereka benarkan.

Seseorang pembenci tidak pernah mengoreksi dirinya karena seorang pembenci hanya ingin mencuatkan nafsu syahwatnya dengan selalu mengajak berbuat apa-apa yang diniatkan,bahkan pada saat dia diberikan jabatan justru sebaiknya lebih jahat dari orang yang dibenci.
Kita simak lagi disamping kiri dan kanan kita,di tetangga kita bahkan di diri sendiri kita apakah sudah pantas menilai si pembenci benar melakukan kesalahan ternyata terjawab untuk si pembenci adalah si pembenci dia tidak akan menerima kalau dirinya merasa bersalah.
Mental pembenci hanya ada di Zaman Jahiliah yang harus dimusnahkan dari bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan falsafah pada zaman Jahiliah Rasullullah selalu dibenci dengan demikian selalu di benci terjawab bahwa pembenci adalah musuh kita bersama.
Jangan sampai hidupmu menjadi pembenci terhadap orang lain akan tetapi jadilah diri mu sendiri jika tidak kamu sebenarnya yang tidak mencintai dirimu sendiri bahkan akan melibatkan banyak orang lain yang akan tersesat dalam kebencian sejati.
Jadilah manusia yang mempunyai jiwa konsekuensi dan komitment sendiri dengan menerima kenyataan yang berdasarkan faktanya. Sesuai sab’da dengan mulia ajaran, Nabi Besar Junjungan alam Muhammad Rasulullah saja mengajarkan kita semua untuk menciptakan Kebaikan agar manusia hidup dalam kebaikan untuk semua orang.
Pewarta: (YM/Joni Sudarso SH. MH)







I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article. https://www.binance.info/en-IN/register-person?ref=UM6SMJM3