Kepulauan Tanimbar – (SIN) – Tenun ikat Tanimbar kembali menemukan momentum penting. Setelah lama dikenal sebagai warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat Kepulauan Tanimbar, kain dengan puluhan motif khas itu kini mulai dipetakan untuk memasuki pasar yang lebih luas.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta menjadi pintu masuk agar produk lokal tidak hanya bertahan sebagai identitas budaya, tetapi juga berkembang menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi.
Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan lapangan yang dilakukan tim dari INPEX Masela Ltd, PT Sarinah, dan ID Survey ke sejumlah pelaku UMKM tenun ikat di Kota Saumlaki, Rabu (29/7/2026). Dalam kunjungan itu, Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, MKM., turut mendampingi rombongan.
Kunjungan itu bukan sekadar melihat proses produksi. Tim melakukan pemetaan terhadap potensi UMKM tenun, mulai dari kualitas produk, keberagaman motif, hingga peluang pengembangan agar mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional.
Tanimbar memiliki kekayaan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Sedikitnya terdapat 47 motif tenun khas yang tersebar di berbagai kecamatan. Setiap motif lahir dari sejarah, filosofi, dan nilai budaya masyarakat setempat yang diwariskan turun-temurun. Kekayaan inilah yang dinilai memiliki daya tarik kuat untuk dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.
Dalam skema kerja sama tersebut, PT Sarinah diproyeksikan mengambil peran sebagai kurator sekaligus mitra pemasaran. Produk tenun Tanimbar tidak hanya akan dipasarkan dalam bentuk kain tradisional, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti busana modern berbasis tenun serta aneka aksesori khas Tanimbar yang memiliki daya saing di pasar nasional.
Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, MKM., mengatakan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak lagi dipisahkan dari penguatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, tenun Tanimbar harus dipandang bukan hanya sebagai karya seni yang merepresentasikan identitas budaya, tetapi juga sebagai aset ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin apabila dikelola secara profesional.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut Senior Professional SCM INPEX Masela Ltd Juli Indira Wardhana, Marketing, Promotion and Event Group Head PT Sarinah Elsa Laela Dwi bersama tim, serta Sustainability Analyst Surveyor Indonesia yang tergabung dalam Tim ID Survey, Rica Sandra Amelia.
“Bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sinergi ini menjadi langkah awal menuju penguatan ekosistem UMKM berbasis budaya,” ujar dr. Juliana Ch. Ratuanak.
Harapannya, tenun ikat Tanimbar tidak hanya dikenal sebagai simbol identitas masyarakat Duan Lolat, tetapi juga mampu menempati ruang-ruang strategis di pasar nasional, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi para perajin yang selama ini menjaga warisan budaya tersebut.
(DP)






