Lumpuhnya Harga Jual Beli Limbah Sampah, Pengaruhi Ekonomi “Warga Pemulung”

Jabar – (SIN) – Sudah Jatuh Tertimpa Tangga,itu kata ucapan yang pantas di keluhkan oleh ratusan warga yang berpenghasilan rendah dengan menyandang sebutan sebagai “Pemulung” sampah di 3 TPST areal tempat zona pembuangan sampah yang berada di Kabupaten / Kota Bekasi tepatnya dalam wilayah Kelurahan Sumur Batu,Kelurahan Ciketing Udik dan Kelurahan Cikiwul yang masuk dalam Kecamatan Bantar Gebang Kota Bekasi dan TPST Burangkeng – Jati Kabupaten Bekasi Jawa Barat berbatasan dengan TPST Sumur Batu.

“Dari sekian banyak para media,Youtuber Chanel,LSM dan Aktivis yang coba datang meliput ketempat ini (sambil menunjukan lokasi kegiatan dalam zona kerja Tpst Sumur Batu,red),tidak satupun yang memberikan kontribusi perubahan dan perbaikan ekonomi pada keberadaan kami pak disini sebagai Pemulung Sampah TPST,yah..mungkin kami hanya jadi objek pemberitaan saja untuk oplah ranting dan subscribe rekan rekan yang berkepentingannya ga jadi soal pak’ karena kami tahu digoreng dengan pihak terkait itu tidak jadi soal kami pun bisa dengan sendiri berjuang untuk perubahan nasib kami untuk perbaikan ekonomi dengan adanya perhatian pihak swasta dalam program bantuan masing-masing. Dan pak’ masih lebih baik disaat Corona Covid-19, kami lebih sejahtera dari pada saat di tahun politik saat ini.” Ungkap Bang Duplo, tokoh senior masyarakat pemulung bekasi.

Dikatakan lebih lanjut oleh Dia “Perhatian Pemerintah saat di musim politik seperti ini akan menjadi batas terbawah sebagai tolak ukur buat kami,jadi sudah tidak merupakan hal yang aneh kalau keberadaan kami bukan harapan mereka untuk minta dipilih, biarkan saja kami sudah muak dengan janji mereka yang berpolitik baik di dewan,walikota atau presiden sekalipun lebih baik kami semua golput tidak memilih,hal ini kami tahu buat kami tidak akan membawa ruang perubahan apapun seperti sekarang kenyataannya lumpuhnya harga hasil yang kami cari tidak sepadan dengan hitungan hidup saat ini”, Tegas Bang Duplo sapaan dari Bang Nursaidi dikediamannya, 20/10/23.

Ditempat terpisah, Bagong Suyoto Ketua KPNAS (Koalisi Persampahan Nasional) mengatakan diruang kerjanya ” Seperti contoh dengan adanya kejadian kemarin beberapa pekan yang lalu kedatangan Tim Gakhum KLHK – RI yang datang ke pabrik pengelolaan sampah di sekitar jalan baru dengan langsung memberikan segel pada salah satu pabrik membuat pabrik lainnya tutup langsung karena takut juga ditutup,dan itu semuanya sempat ada yang menuduh saya sebagai “Cepu” yang katanya menginfokannya ke KLHK pusat. Padahal,saya sendiri datang kesana pada saat itu ada info dari orang saya bahwa ada kendaraan taktis gakhum KLHK muter muter bolak balik dan berhenti disalah satu pabrik tersebut.” Papar Mas Bagong.

“Dari info tersebut saya cek langsung ternyata benar ada salah satu pabrik yang dipasangkan papan penyegelan dari KLHK RI. Spontan saya pun mencari sumber terpercaya dan hasilnya sudah saya kantongi sebab akibat dan kearah mana persoalan ini mau dibuat sebagai fungsi dan tupoksi tim gakum yang akhirnya dalam tanda kutip (“) ada upaya diduga ada yang dilakukan oleh oknum untuk memanfaatkan situasi dengan alih alih memediasi para pengusaha dengan KLHK – RI dengan alasan untuk kepentingan pekerja dan pemulung pabrik pun bisa beroperasi dengan hitungan cepat waktu infonya,”Sambil Tersenyum ketir nya mas Bagong seakan memberikan sinyal untuk Investigasi dalam persoalan itu.

Dan alhamdulilah Tuhan tidak tidur, malamnya saya secara lengkap dapat informasi secara utuh yang nantinya saya akan tindak lanjuti agar jelas semuanya untuk apa dan siapa yang bermain menggoreng untuk kepentingan organisasinya sesuai info yang saya dapat,banyak lho bang 32 pabrik kalikan saja kalau angkanya terkuak per pabrik untuk kembali beroperasi dengan alasan pekerja dan pemulung lha baru nyadar kali ya,” Senada tersenyum.

Penulis (Yatmono)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *