KABUPATEN SOLOK – (SIN) – Lebih dari sebulan setelah musibah pohon tumbang terjadi pada 25 Agustus 2026, kondisi salah seorang warga terdampak di Jorong Tembok, Nagari Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, masih memprihatinkan.
Penelusuran Media Cetak dan Online Suara Investigasi News.com pada Senin, 28 September 2026, menemukan kondisi rumah milik Yusni, perempuan kelahiran 1958, yang mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon tumbang saat kejadian.
Bukan hanya rumah yang terdampak. Yusni juga mengalami luka pada bagian kepala akibat tertimpa ranting pohon. Namun, menurut keterangannya kepada awak media, penanganan medis yang diterimanya saat kejadian dinilai sangat terbatas.

“Waktu kejadian, warga menjemput bidan desa. Saya hanya diberi obat, tidak ada rujukan ke puskesmas maupun rumah sakit,” ujar Yusni.
Ia mengaku belakangan ini masih sering mengalami pusing,sakit kepala dan sering linglung Kondisi tersebut membuat dirinya berharap adanya perhatian lebih serius terhadap korban, terutama untuk memastikan kondisi kesehatannya setelah mengalami benturan pada bagian kepala.
Di sisi lain, persoalan tempat tinggal juga belum terselesaikan. Yusni mengatakan, hingga kini sejumlah pihak dari pemerintah kabupaten memang sudah beberapa kali datang melakukan pendataan. Namun, menurut pengakuannya, bantuan yang diharapkan belum juga diterima.
“Orang dinas dari kabupaten sudah sering datang mendata, tetapi bantuan belum juga turun,” ungkapnya.
Saat hujan turun, kondisi rumah yang masih ditempati sementara semakin memprihatinkan. Atap darurat berupa terpal yang dipasang disebut terlalu kecil sehingga tidak mampu menutup seluruh bagian bangunan yang tersisa. Akibatnya, air hujan masuk dan menggenangi bagian dalam rumah.
Dalam kondisi lanjut usia, Yusni bersama suaminya terpaksa berusaha memperbaiki rumah secara bertahap dengan mengandalkan bantuan keluarga dan masyarakat.
“Kalau ada bantuan dari famili atau masyarakat sedikit-sedikit, kami belikan beberapa keping atap, batako dan semen. Saya membantu bapak mengangsurnya agar kami tidak kehujanan,” tuturnya.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: sampai kapan korban bencana hanya akan didata tanpa kepastian penanganan?
Pendataan tentu merupakan bagian penting dalam penanganan bencana. Namun, bagi korban yang rumahnya rusak dan mengalami luka, kepastian mengenai bentuk serta waktu bantuan menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting.
Yusni berharap Pemerintah Kabupaten Solok tidak berhenti pada pendataan semata, melainkan memberikan kepastian terhadap kondisi rumah dan kesehatan korban.
“Saya berharap ada kepastian dari Pemda, bukan hanya sekadar pendataan terus. Ini sudah sebulan lebih kami dibiarkan begini,” ujarnya.
Media Suara Investigasi News.com akan meminta konfirmasi kepada pihak terkait di Pemerintah Kabupaten Solok mengenai hasil pendataan terhadap korban, bentuk bantuan yang telah disiapkan, mekanisme penyaluran, serta alasan hingga lebih dari satu bulan pascakejadian bantuan belum diterima korban.
Publik berhak mengetahui: apakah data korban sudah masuk dalam daftar penerima bantuan, kapan bantuan akan direalisasikan, dan siapa yang bertanggung jawab memastikan korban tidak terus bertahan dalam kondisi darurat. [LJ]






