Kepulauan Tanimbar – (SIN) – Di tengah harapan masyarakat akan hadirnya akses pendidikan yang lebih dekat dan berkualitas, berdirilah bangunan megah SMP Negeri 6 Selaru. Gedung sekolah yang dibangun dengan anggaran mencapai miliaran rupiah itu awalnya diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran bagi generasi muda di wilayah tersebut. Namun kenyataan yang terlihat hari ini justru menyisakan ironi.
Bangunan yang seharusnya dipenuhi suara siswa dan guru kini lebih banyak dihuni kesunyian. Ruang-ruang kelas berdiri kokoh, tetapi kosong. Halaman sekolah yang mestinya ramai oleh aktivitas belajar mengajar tampak sepi tanpa jejak kehidupan pendidikan. Bagi sebagian warga desa Werain, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Taninbar Maluku, SMP Negeri 6 Selaru kini tak ubahnya sebuah “museum tak bertuan” yang menjadi saksi bisu sebuah proyek besar yang belum memberikan manfaat optimal.
Dari kejauhan, kondisi fisik sekolah masih terlihat cukup baik. Cat bangunan memang mulai memudar di beberapa bagian, namun struktur gedung masih berdiri tegak. Ironisnya, kemegahan bangunan tersebut berbanding terbalik dengan ketiadaan aktivitas yang berlangsung di dalamnya.
Beberapa warga desa Werain mengaku prihatin melihat kondisi sekolah yang terbengkalai. Mereka menilai keberadaan fasilitas pendidikan itu seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah Selaru, bukan justru menjadi bangunan kosong yang perlahan dimakan usia.
“Kami dulu sangat senang ketika sekolah ini dibangun. Harapannya anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Tapi sekarang bangunannya lebih banyak kosong daripada digunakan,” ungkap beberapa warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu ( 10/6/2026).
Bagi masyarakat desa Werain Kecamatan Selaru, persoalan ini bukan sekadar tentang gedung yang tidak dimanfaatkan. Lebih dari itu, mereka mempertanyakan efektivitas perencanaan pembangunan yang telah menghabiskan anggaran negara dalam jumlah besar. Sebab setiap rupiah yang digunakan sejatinya berasal dari uang rakyat yang seharusnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Salah satu pengamat pendidikan yang namanya tak mau disebut menilai, pembangunan sarana pendidikan harus selalu dibarengi dengan kajian kebutuhan yang matang. Kehadiran gedung sekolah tanpa dukungan jumlah peserta didik yang memadai, tenaga pengajar yang cukup, serta perencanaan operasional yang berkelanjutan berpotensi melahirkan aset-aset publik yang tidak produktif.
Kondisi SMP Negeri 6 Selaru yang beralamat di Jalan Masturlel desa Werain menjadi cermin penting bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari berdirinya sebuah bangunan. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada sejauh mana fasilitas tersebut mampu dimanfaatkan dan memberikan dampak bagi masyarakat.
Kini, harapan warga masih tersisa. Mereka berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan SMP Negeri 6 Selaru. Berbagai opsi mulai dari optimalisasi pemanfaatan sekolah, penataan kembali sistem pendidikan di wilayah tersebut, hingga pengembangan fungsi bangunan untuk kepentingan masyarakat perlu dipertimbangkan agar aset bernilai miliaran rupiah itu tidak terus menjadi simbol pemborosan.
Di tengah hembusan angin pesisir Selaru, bangunan SMP Negeri 6 masih berdiri dalam diam. Ia seakan menunggu jawaban atas pertanyaan yang terus bergema di benak masyarakat: apakah sekolah ini akan kembali hidup sebagai tempat menimba ilmu, atau selamanya dikenang sebagai museum tak bertuan hasil pembangunan yang kehilangan arah?
(dp)





