Maluku Barat Daya – (SIN) – Harapan masyarakat Pulau Lirang, Kabupaten Maluku Barat Daya, untuk menikmati akses transportasi laut yang lebih aman dan lancar hingga kini masih belum terwujud. Pasalnya, pengerukan alur masuk Pelabuhan Lirang yang telah lama dijanjikan oleh pihak berwenang belum juga direalisasikan.
Kondisi pelabuhan yang mengalami pendangkalan menjadi keluhan utama warga. Akibatnya, kapal-kapal yang melayani rute ke wilayah tersebut kerap mengalami kesulitan saat bersandar, terutama pada kondisi air surut. Situasi ini tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada distribusi barang dan kebutuhan pokok ke pulau terluar Indonesia tersebut.
Sejumlah warga Lirang kepada wartawan media ini,Minggu (14/6/2026) mengaku kecewa karena hingga saat ini belum ada tanda-tanda pelaksanaan pengerukan, padahal persoalan tersebut telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah maupun instansi terkait.
“Kami sudah lama mendengar rencana pengerukan pelabuhan, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi. Padahal pelabuhan ini adalah urat nadi kehidupan masyarakat Lirang,” ungkap salah seorang warga.
Menurut masyarakat, keberadaan Pelabuhan Lirang sangat vital karena menjadi pintu utama keluar-masuk orang dan barang. Ketika kapal kesulitan bersandar akibat dangkalnya alur pelayaran, aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu. Biaya transportasi pun berpotensi meningkat karena proses bongkar muat menjadi lebih sulit dan memakan waktu.
Selain berdampak pada sektor ekonomi, kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan pelayaran. Nahkoda kapal hanya berlabuh di laut yang jauh dari pelabuhan, karena jika dipaksakan maka risiko kandas akibat sedimentasi yang terus terjadi.
Tokoh masyarakat setempat berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Mereka menilai pengerukan pelabuhan bukan lagi sekadar kebutuhan pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik dan konektivitas wilayah perbatasan.
“Jangan sampai masyarakat terus menunggu tanpa kepastian. Kami berharap ada langkah nyata, bukan hanya janji. Pelabuhan ini melayani masyarakat di daerah perbatasan yang seharusnya mendapat perhatian lebih,” kata seorang tokoh masyarakat.
Pulau Lirang yang berada di kawasan perbatasan Indonesia memiliki posisi strategis dalam menjaga konektivitas dan kedaulatan negara. Karena itu, warga berharap pembangunan infrastruktur dasar, termasuk fasilitas pelabuhan, menjadi prioritas pemerintah.
Hingga kini, masyarakat masih menaruh harapan besar agar janji pengerukan Pelabuhan Lirang segera diwujudkan. Mereka menilai langkah tersebut akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, kelancaran transportasi laut, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat di wilayah terdepan Indonesia.
Sampai berita ini tayang, sedang dilakukan upaya konfirmasi ke pihak berwenang.
(dp)





