Solok – (SIN) – Sejumlah warga Jorong Balai Pandan, Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, mengeluhkan dampak lingkungan yang diduga berasal dari aktivitas sebuah usaha peternakan ayam yang lokasinya berada di dekat kawasan permukiman penduduk.
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Mereka mengaku sudah cukup lama merasakan gangguan berupa bau menyengat, serbuan lalat saat masa panen atau pembongkaran ayam, hingga munculnya serangga kecil yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai “nyapuah”.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan serta aktivitas sehari-hari masyarakat.
Salah seorang warga berinisial RJ mengatakan bahwa gangguan paling terasa terjadi ketika peternakan melakukan pembongkaran ayam.
“Pada waktu musim pembongkaran ayam kami sudah merasa tidak nyaman. Lalat begitu banyak dan sangat mengganggu. Belum lagi muncul binatang kecil atau nyapuah, ditambah bau kotoran ayam yang begitu menyengat,” ungkapnya kepada media.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya berinisial ER. Menurutnya, keberadaan serangga kecil tersebut membuat warga kesulitan menjaga kebersihan makanan di dalam rumah.
“Kami harus menutup rapat makanan. Bahkan satu penutup saja tidak cukup, karena binatang nyapuah itu masih bisa menembusnya. Ini tentu sangat mengganggu dan membuat kami khawatir terhadap kebersihan makanan,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan sejumlah warga, persoalan dampak lingkungan dari usaha peternakan ayam tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada Pemerintah Nagari Cupak. Bahkan, warga yang terdampak juga pernah melakukan aksi protes atau demonstrasi sebagai bentuk penyampaian aspirasi agar permasalahan tersebut segera mendapat perhatian.
Namun hingga kini, menurut warga, belum ada solusi yang benar-benar mampu mengatasi persoalan yang mereka rasakan. Akibatnya, keluhan masyarakat terus berlanjut dan menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar peternakan.
Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak menolak keberadaan usaha peternakan ayam sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, mereka berharap setiap kegiatan usaha juga memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi usaha.
“Kami tidak melarang orang berusaha. Silakan beternak ayam, tetapi kenyamanan masyarakat juga harus dipikirkan. Jangan sampai masyarakat yang menjadi korban akibat dampak lingkungan yang ditimbulkan,” ungkap salah seorang warga.
Warga berharap pemerintah nagari, pemerintah daerah, serta instansi teknis yang berwenang segera turun ke lapangan untuk meninjau langsung kondisi tersebut. Mereka meminta di carikan Solusi terkait keluhan mereka terhadap keberadaan peternakan, termasuk memastikan apakah lokasi usaha telah memenuhi ketentuan mengenai jarak dari permukiman serta kewajiban pengelolaan limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya dialog yang melibatkan seluruh pihak, baik pemerintah, pemilik usaha maupun warga terdampak, sehingga dapat ditemukan solusi yang adil tanpa mengabaikan hak masyarakat untuk memperoleh lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola peternakan ayam maupun pihak Pemerintah Nagari Cupak belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang disampaikan warga.
Media ini akan berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak pengelola usaha serta instansi terkait guna memperoleh penjelasan dan informasi yang berimbang.
(LJ)






