Menyiapkan Tanimbar di Panggung Global, Ricky Jauwerissa Rampungkan KPPD Bersama Lemhannas dan Lee Kuan Yew School

Jakarata – (SIN) – Selama dua pekan terakhir Juli, Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa tidak berada di daerah. Ia mengikuti Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026, sebuah program yang mempertemukan kepala daerah dengan para pakar kebijakan, geopolitik, dan tata kelola pemerintahan. Bagi Ricky, forum itu bukan sekadar pelatihan kepemimpinan, melainkan ruang menyusun arah baru pembangunan Tanimbar di tengah perubahan dunia yang berlangsung cepat.

Program yang berlangsung pada 15–28 Juli 2026 tersebut diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan Lemhannas RI, Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), serta Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore.

KPPD dirancang untuk memperkuat kapasitas kepala daerah dalam membaca tantangan strategis, mulai dari dinamika geopolitik global, perkembangan kawasan Indo-Pasifik, hingga implikasinya terhadap pembangunan daerah. Dalam konteks itu, peserta tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga diajak melihat praktik terbaik tata kelola pemerintahan melalui studi lapangan di Singapura.

Bagi daerah kepulauan seperti Kepulauan Tanimbar yang berada di wilayah perbatasan dan mulai menjadi perhatian melalui pengembangan Proyek Abadi Masela, pemahaman terhadap dinamika regional dinilai semakin relevan.

Pembangunan tidak lagi hanya dipandang sebagai urusan infrastruktur, tetapi juga kemampuan daerah membaca perubahan ekonomi, investasi, dan keamanan kawasan.

Selama mengikuti program, bupati Ricky Jauwerissa bersama peserta lainnya memperoleh pembekalan dari akademisi, praktisi, dan pejabat yang membahas kepemimpinan strategis, inovasi kebijakan publik, hingga penguatan karakter kebangsaan.

Seluruh rangkaian itu kemudian bermuara pada penyusunan Rencana Aksi Kepala Daerah, sebuah dokumen yang menjadi panduan implementasi kebijakan setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

Melalui rencana aksi tersebut, setiap kepala daerah dituntut menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh menjadi program nyata, sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayahnya.

Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa mengatakan KPPD tidak hanya memperkaya wawasan kepemimpinan, tetapi juga membuka perspektif baru dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah di tengah perubahan global yang berlangsung cepat.

“Melalui KPPD ini saya memperoleh banyak pembelajaran tentang bagaimana seorang kepala daerah harus mampu membaca dinamika geopolitik, perubahan ekonomi global, serta menerjemahkannya menjadi kebijakan yang relevan bagi masyarakat. Tanimbar tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus siap memanfaatkan setiap peluang untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jauwerissa.

Menurutnya, pengalaman berdiskusi dengan para pakar nasional maupun internasional, termasuk mempelajari praktik tata kelola pemerintahan di Singapura, menjadi bekal penting dalam menyusun langkah pembangunan yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

“Saya ingin hasil dari kursus ini tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Semua pembelajaran akan diterjemahkan ke dalam rencana aksi yang nyata agar tata kelola pemerintahan semakin baik, pelayanan publik semakin berkualitas, dan Tanimbar mampu bersaing serta mengambil peran dalam perkembangan kawasan, terlebih dengan hadirnya Proyek Strategis Nasional seperti Blok Masela,” kata Jauwerisaa.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pengalaman mengikuti KPPD menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif pembangunan. Daerah tidak hanya dituntut mengejar pembangunan fisik, tetapi juga meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan, memperkuat daya saing sumber daya manusia, serta membangun kebijakan yang adaptif terhadap perubahan global.

Dengan bekal tersebut, pemerintah daerah berharap pembangunan Tanimbar dapat bergerak lebih terarah, memanfaatkan peluang investasi, memperkuat posisi wilayah kepulauan di kawasan timur Indonesia, sekaligus menyiapkan masyarakat menghadapi tantangan ekonomi masa depan.

Di tengah semakin besarnya perhatian terhadap Tanimbar sebagai salah satu kawasan strategis nasional, kemampuan pemimpin daerah membaca perkembangan dunia menjadi modal penting. Sebab, pada akhirnya, pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan dalam mengelola peluang yang datang.

(DP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *