Kepulauan Tanimbar – (SIN) – Di halaman Rumah Informasi Kidabela, Desa Lermatang, Minggu siang, 2 Agustus 2026, warga berkumpul menyaksikan peresmian sebuah bangunan sederhana. Rumah itu bukan kantor pemerintahan, bukan pula pos proyek. Fungsinya justru lebih mendasar: menjadi ruang bertemunya informasi, aspirasi, dan harapan masyarakat terhadap Proyek Lapangan Abadi Blok Masela.
Rumah Informasi Kidabela yang digagas INPEX Masela Ltd itu menjadi penanda bahwa proyek energi terbesar di Indonesia Timur mulai memasuki babak baru. Bukan hanya pembangunan fisik yang disiapkan, melainkan juga komunikasi dengan masyarakat yang akan hidup berdampingan dengan proyek tersebut.
Di sela-sela soft launching rumah informasi itu, Direktur Bina Swadaya Konsultan MG, Ana Budi Rahayu, memaparkan skema pendampingan masyarakat yang akan diterapkan di Desa Lermatang. Baginya, investasi bernilai miliaran dolar tidak akan berarti banyak bila masyarakat lokal tidak dipersiapkan menjadi bagian dari perubahan.
“Yang ingin dibangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga kesiapan masyarakat agar mampu menangkap peluang ekonomi yang muncul,” kata Ana.
Pendampingan yang disiapkan tidak berhenti pada pelatihan. Program itu diawali dengan pemetaan potensi desa, penguatan kelembagaan masyarakat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan usaha yang berpeluang masuk ke dalam rantai pasok Proyek Masela. Tujuannya sederhana: memastikan manfaat investasi tidak berhenti di kawasan industri, tetapi mengalir hingga ke rumah-rumah warga.
Bina Swadaya menilai, desa-desa di sekitar proyek memiliki modal sosial dan sumber daya yang dapat dikembangkan. Tantangannya adalah memperkuat kemampuan masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang akan meningkat seiring masuknya fase konstruksi proyek.
Pendekatan itu mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Wakil Bupati dr. Juliana Ch. Ratuanak menilai, keterbukaan informasi menjadi syarat utama agar proyek strategis nasional tersebut memperoleh kepercayaan masyarakat.
“Transparansi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi memastikan masyarakat mengetahui, memahami, dan ikut mengawal setiap proses pembangunan yang berlangsung di daerahnya,” ujar Juliana.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat sejak awal akan memperkecil kesenjangan informasi sekaligus membangun rasa memiliki terhadap proses pembangunan. Karena itu, kehadiran Rumah Informasi Kidabela bukan hanya menjadi pusat penyebaran informasi, tetapi juga ruang dialog antara pemerintah, investor, dan warga.
Bagi Tanimbar, Proyek Masela selama bertahun-tahun lebih banyak hadir sebagai wacana dibanding kenyataan. Kini, ketika tahapan pembangunan mulai bergerak, tantangannya bukan lagi sekadar membangun fasilitas pendukung, melainkan memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal di tengah arus investasi.
Rumah Informasi Kidabela menjadi simbol dari upaya itu. Sebuah ruang yang diharapkan bukan hanya menyampaikan kabar tentang perkembangan proyek, tetapi juga memastikan masyarakat ikut memahami, mengawasi, dan memperoleh manfaat dari salah satu proyek energi terbesar yang pernah hadir di Kepulauan Tanimbar.
(DP)






