SEMARANG / JAKARTA – (SIN) – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyoroti kondisi kebebasan pers di tanah air yang dinilai sedang berada dalam ancaman serius dan bahaya. Dalam pidato resminya, Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida, menegaskan komitmen insan pers untuk tetap menjaga integritas dan independensi di tengah meningkatnya tekanan, ancaman, serta pelabelan negatif (stigma) terhadap jurnalis.
Nany Afrida secara tegas merespons tiga sebutan atau label stigma yang sering diarahkan kepada jurnalis dan media kritikal, yakni sebutan “londo ireng” (pengkhianat), “tidak punya otak”, hingga “kawanan sirkus”.
1. Respon terhadap Stigma “Londo Ireng” (Pengkhianat)
Nany menegaskan bahwa jika label londo ireng dimaksudkan untuk menyebut jurnalis sebagai pengkhianat karena tidak menuruti keinginan penguasa, maka pers dengan tegas mengakui posisi tersebut.
“Ya, kita londo ireng. Karena kita memang tidak bekerja berdasarkan apa yang diinginkan penguasa. Kita bekerja berdasarkan fakta, kepentingan publik, kode etik, dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi,” ujar Nany.
Ia menambahkan, apabila pertanyaan kritikal dari pers dianggap sebagai bentuk pengkhianatan, maka persoalannya bukan pada jurnalis yang bertanya, melainkan pada kekuasaan yang tidak siap untuk mendengar kritik dan kebenaran.
2. Respon terhadap Stigma “Tidak Punya Otak”
Menjawab sindiran bahwa jurnalis dianggap “tidak punya otak”, Nany menyampaikan refleksi mendalam mengenai dedikasi insan pers di tengah tingginya risiko profesi.
“Mungkin kami dianggap tidak punya otak, karena setelah menerima tekanan, ancaman, kekerasan, dan ketidakpastian ekonomi, kami tetap memilih jadi jurnalis. Masih membuka laptop, memeriksa dokumen, dan menulis ketika menulis itu tidak selalu aman. Tapi kami punya nurani, kami punya integritas, dan yang paling penting: kami punya keberanian,” tegasnya.
3. Respon terhadap Stigma “Kawanan Sirkus” (Solidaritas Pers)
Mengenai sebutan “kawanan sirkus”, AJI menegaskan bahwa solidaritas dan kebersamaan antarjurnalis adalah benteng utama pertahanan pers.
“Kalau berkumpulnya kami disebut kawanan sirkus, tidak masalah. Kami berkumpul ketika seorang jurnalis diserang, kami berkumpul ketika media diintimidasi, dan kami berkumpul ketika jurnalis menghadapi kriminalisasi. Karena kami tahu seorang jurnalis tidak boleh menghadapi kekerasan seorang diri,” terangnya.
Nany menambahkan bahwa hal yang paling ditakuti oleh kekuasaan bukanlah kekuatan jurnalis secara individu, melainkan kemampuan pers untuk bersatu dan saling melindungi.
Komitmen Pers Indonesia
Mengakhiri pernyataannya, AJI Indonesia menegaskan bahwa terlepas dari segala tekanan, ancaman kekerasan, maupun pelabelan negatif, jurnalis tidak akan mundur. Tugas utama pers tetap satu: mencari fakta, mengawal demokrasi, dan menyampaikannya secara jujur kepada publik. (*)
Organisasi: Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia
Situs Web: www.aji.or.id
Sumber Video: Jatengnews.id / @rumah_jurnalis






