Lampung Utara – (SIN) – Tepatnya hari Kamis (10/03/2022) bertempat di Gedung Korpri Lampung Utara akan dilaksanakan pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung Utara ke-XV.
Berbagai elemen masyarakat baik dari tubuh PMII sendiri, perwakilan dari Nahdlotul Ulama serta Banom-banomnya, dan juga perwakilan dari jajaran pemerintah Kabupaten Lampung Utara turut di undang dalam acara pembukaan Konfercab ke-XV PC PMII Lampung Utara.
Konferensi Cabang (Konfercab) merupakan musyawarah tertinggi tingkat cabang yang dilakukan setahun sekali. Maka bisa dikatakan, dari Konfercab inilah akan ditentukan bagaimana kiprah PMII Lampung Utara satu tahun kedepan.
Konfercab PMII Lampung Utara ke-XV ini mengambil tema “Transformasi kepemimpinan PMII dalam membangun perubahan serta relevan dengan generasi milenial”. Seperti yang diungkapkan oleh wakil Ketua 2 PC PMII Lampung Utara, Sahabat Candra Aji winata , “Bahwasanya tema ini saya rasa sangat relevan dengan keadaan Negara Indonesia, dimana negara mengalami situasi yang kurang baik akibat dari pandemi yang belum kunjung usai ”.
Dari tema tersebut sahabat Heri Setiawan berharap agar apa yang dihasilkan dalam konfercab ini bisa membuahkan suatu formulasi dan regulasi yang baik untuk PMII kedepannya demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua BPK (Badan Pekerja Konfercab) PMII Lampung Utara sahabat Mevander Mareno , “Suatu organisasi dikatakan maju, bukan dilihat seberapa banyak jumlah anggotanya, juga bukan dari seberapa banyak acara yang telah dilakukan. Tapi suatu organisasi yang maju adalah organisasi yang memiliki akhlak yang baik”.
Dari penuturannya ketua BPK secara tersirat mengungkapkan bahwa kepada seluruh kader-kader PMII yang masih aktif supaya bersungguh-sungguh ketika berproses di dalam PMII.
Sebagai organisasi pengkaderan, maka peran kader sangatlah berarti bagi organisasi. Selain itu juga karena kader adalah bingkai atau wajah dari oraganisasi, sehingga seorang kader dituntut untuk bisa memberikan output yang positif di masyarakat dengan menggambarkan seorang kader yang berakhlaqul karimah.
Apabila seorang kader memiliki output yang baik maka dirinya pun akan mampu menjadi benteng penghalau dari unsur-unsur yang ingin merusak keutuhan NKRI.
Selain itu ketua BPK tak lupa juga mengkritik sistem kaderisasi yang selama ini dilakukan, karena fasenya nyaris sama saja hanya berkisar rekrutmen anggota Mapaba, PKD, dan kalau beruntung mereka bisa berproses sampai PKL. Kurangnya perhatian terhadap dinamika kognisi keilmuan megakibatkan kader mengalami ketumpulan dalam atmosfer intelektual dalam tubuh PMII.
Maka diharapkan setelah konfercab ini jangan sampai kecenderungan seperti ini terus berlanjut, karena akan ditakutkan selain gerakan intelektual yang mandek, juga gerakan spiritualisme akan mandek dengan sendirinya.
Dampak yang lebih buruknya lagi apabila kemandekan gerakan intelektual dan spiritual terus dibiarkan, nantinya gerakan-gerakan ekstrim kanan seperti mereka yang pro-khilafah, yang jelas-jelas merongrong NKRI akan menguasai berbagai lini di masyarakat.
Perjuangan menjadi seorang kader PMII memang tidak mudah. Kita pun butuh pola kaderisasi (paradigma, konsepsi, analisis, sampai pada level praksis staretegis) di PMII yang mencakup seluruh espketasi para “pendahulu” sekaligus juga harus mampu menjawab problematika yang terjadi masa kini.
Namun terlepas dari itu semua, mari kita awali dari pribadi kita masing-masing. Untuk itu kita juga harus mengetahui medan yang kita hadapi. Kiranya hambatan terbesar sekarang ini apa bagi pergerakan kita?
Jika ditelisik kedalam diri kita masing-masing, untuk saat ini hambatan terbesarnya adalah kenyamanan. Kenapa kenyamanan? Karena kenyamanan yang membuat pergerakan cenderung lambat, malas, dan hanya menanti-nanti. Itulah yang dirasakan kader-kader PMII saat ini.
Nyaman memang baik, tapi terlalu nyaman akan mematikan bagi diri kita sendiri. Dorongan untuk maju menjadi tumpul, lalu kita mudah termakan pada ekstase yang semu. Nyaman pun seakan seperti musuh dalam selimut, ketika hangatnya mulai melenakan, padahal sejatinya ia adalah musuh. Niat-niat baik akan terlelap juga akhirnya dalam kebiasaan nyaman untuk memilih ‘tak bergerak’.
Saking nyamannya, kita membiarkan segalanya berlalu tanpa impuls untuk lebih maju lagi. Secara pikiran sebenarnya kita ingin maju, tapi raga yang tak terlecut akhirnya tetap malas juga.
Tampak tak ada masalah, justru itulah masalahnya. Kadang kita kebingungan sendiri, mencari-cari masalah apa yang membuat kita terlalu lama berdiam diri, dan…. ternyata dia adalah sahabat terbaik sekaligus musuk yang licik, yaitu kenyamanan diri kita sendiri.
Organisasi lain sudah sampai di level tinggi karena mereka para kadernya mau melecut diri, keluar dari zona nyamannya sendiri. Sedangkan kita mungkin masih belum beranjak karena tak ingin lepas dari servis yang serba enak. Kita seakan punya semuanya, berbagai fasilitas tersedia, kucuran dana datang dari mana-mana, juga teknologi semakin mudah saja, jumlah kita pun juga tak kurang adanya, apalagi? Nah jika kita sadari ternyata titik tolaknya adalah tak terlena pada kenyamanan bukan? Susah sekali memang bila sudah nyaman, akan susah berubah, menjadi susah beranjak. Kecuali, ‘kiamat’ tiba-tiba datang. Haruskah sesuatu yang buruk terjadi terlebih dahulu, baru kita mau untuk melecut diri demi organisasi?
Pesan diatas hendaknya bisa kita jadikan acuan menjadi seorang kader ketika berproses, maka jikalau diibaratkan dalam bahasa Jawa, ”Dadi kader iku kudu wani kesel, wani nomboki lan wani dipaido!”.
Dan yang terakhir adalah do’a dan harapan semoga Konferensi Cabang PMII Lampung Utara yang di akan di helat pada (10/03/2022) bisa berjalan lancar tanpa adanya halangan yang berarti, serta semoga dari hasil Konfercab ini dapat menjadikan PMII Tulungagung kedepannya jauh lebih baik, maju dan jaya.
(Dian)





