Hasil Capaian Siswa Masuk PTN Menjadi Alat Evaluasi Kinerja Sekolah Yang Ada Di Lampung

Kota Bandar Lampung – (SIN) – Kenaikan jumlah siswa Lampung yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) pada 2026 mungkin terlihat seperti statistik pendidikan biasa. Namun sesungguhnya ada perubahan yang lebih besar sedang berlangsung.

Untuk pertama kalinya, capaian siswa masuk PTN mulai diposisikan sebagai alat evaluasi kinerja sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Amirico bahkan memberikan sinyal tegas. Setelah jumlah siswa yang lolos SNBT meningkat hampir 10 persen pada 2026, sekolah diminta menghasilkan capaian yang lebih baik lagi pada tahun depan.

“Alhamdulillah, capaian kita tahun ini naik signifikan. Namun kita harus pacu angkanya lebih besar pada 2027. Yang gagal, kita evaluasi,” kata Thomas.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Padahal implikasinya sangat besar.

Selama bertahun-tahun, pendidikan Indonesia cenderung mengukur keberhasilan dari sisi input. Berapa anggaran yang dibelanjakan, berapa ruang kelas dibangun, berapa guru dilatih, atau berapa program yang dijalankan.

Ukuran semacam itu penting.

Tetapi tidak selalu menjawab satu pertanyaan mendasar:

Apakah siswa menjadi lebih kompetitif?

Di sinilah menariknya arah kebijakan yang mulai terlihat di Lampung.

Jika jumlah siswa yang diterima PTN dijadikan salah satu indikator evaluasi, maka ukuran keberhasilan bergeser dari aktivitas menuju hasil.

Sekolah tidak lagi cukup dinilai dari kelengkapan administrasi.

Kepala sekolah tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan mengelola birokrasi.

Guru tidak lagi sekadar dituntut menuntaskan materi pelajaran.

Yang mulai diperhatikan adalah dampaknya terhadap masa depan siswa.

Perubahan cara pandang itu sebenarnya sudah tampak sejak awal 2026. Disdikbud Lampung mulai mendorong penguatan kemampuan akademik melalui pembiasaan soal berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) setelah evaluasi menunjukkan kemampuan nalar siswa masih perlu ditingkatkan.

Pada saat yang sama, Thomas Amirico juga berulang kali menegaskan bahwa kepala sekolah harus berorientasi pada prestasi siswa dan tidak terjebak dalam rutinitas administratif.

Artinya, evaluasi berbasis hasil bukan muncul tiba-tiba.

Tetapi merupakan bagian dari rangkaian kebijakan yang mulai membangun budaya akuntabilitas baru di sekolah.

Tentu ada risiko jika capaian PTN dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Tidak semua lulusan SMA harus kuliah.

Sebagian memilih pendidikan vokasi, dunia kerja, kewirausahaan, sekolah kedinasan, atau jalur profesi lainnya.

Karena itu, indikator keberhasilan pendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi jumlah siswa yang lolos PTN.

Namun untuk sekolah menengah atas yang memang memiliki orientasi akademik menuju pendidikan tinggi, angka penerimaan PTN tetap merupakan salah satu indikator yang paling mudah diukur, paling objektif, dan paling mudah dibandingkan antarwaktu.

Karena itu, cerita terbesar dari kenaikan SNBT 2026 bukanlah bertambahnya jumlah siswa yang diterima perguruan tinggi negeri.

Cerita sesungguhnya adalah lahirnya standar baru dalam pendidikan Lampung.

Ketika hasil mulai dijadikan ukuran, maka evaluasi tidak lagi bertanya berapa banyak program yang dijalankan sekolah.

Evaluasi mulai bertanya lebih sederhana:

Apa yang berubah pada siswa setelah semua program itu dijalankan?

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *