HANDEZKA VAKTORIAS: Dari Matras Kampung hingga Panggung Dunia Sambo

Solok – Sumatera Barat – (SIN) – Di sebuah nagari kecil bernama Jawi-Jawi Guguk, di lereng sejuk Gunung Talang, hidup seorang pemuda yang kini mulai dikenal di kancah olahraga beladiri Indonesia: Handezka Vaktorias, atau akrab disapa Handez. Terlahir pada 12 Februari 2005 dari keluarga sederhana, ia tumbuh dalam kehidupan penuh disiplin, keikhlasan, dan kerja keras. Siapa sangka, pemuda yang sehari-hari berlatih di lapangan desa dengan fasilitas minim ini akhirnya mampu membawa nama Indonesia ke Kejuaraan Dunia Sambo dan meraih medali perunggu.

Bagi masyarakat kampungnya, Handez memang dikenal sebagai pemuda pendiam namun tekun. Tetapi di balik ketenangan wajahnya, tersimpan semangat juang yang menyala sebuah semangat yang memandunya dari matras kecil di kampung hingga gelanggang internasional.

Awal Perjalanan: Dari Gulat ke Dunia Beladiri

Ketertarikan Handez pada olahraga beladiri bermula pada tahun 2016, saat ia masih duduk di kelas 5 SD. Di usia yang masih belia itu, ia mulai menggeluti olahraga gulat. Ia mengenang masa-masa awalnya dengan senyum kecil. “Aku awal tertarik gulat karena lihat kebersamaan timnya. Di situ aku merasa olahraga ini cocok dengan aku,” katanya.

Gulat baginya bukan sekadar olahraga fisik. Ia belajar tentang strategi, kesabaran, kekuatan mental, serta bagaimana menjaga disiplin. Selain sekolah dan mengaji, gulat menjadi rutinitas hariannya. Di bawah bimbingan Pelatih Bismi Fornandes, ia melewati masa-masa latihan keras yang tidak jarang membuatnya berada di titik lelah. Namun motivasi terbesarnya selalu datang dari orang-orang terdekat. “Saya pertama kali menang juara 3 itu rasanya senang sekali dan tidak percaya. Bisa membanggakan orang tua, itu yang paling membuat aku bahagia,” ujar Handez.

Setiap kemenangan kecil menambah keyakinannya untuk terus melangkah lebih jauh. Ketika peluang datang untuk naik tingkat ke kompetisi nasional, ia melewati beragam ujian: seleksi, latihan keras, bahkan kegagalan. Salah satu momen berat yang ia lalui adalah ketika ia tidak lolos seleksi karena kesalahpahaman. “Yang terjadi saat pemilihan, saya terbuang karena ada kesalahpahaman,” kenangnya. “Tapi dorongan pelatih membuat saya bangkit lagi.” Dengan dukungan pelatih dan prinsip hidupnya “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” ia terus melangkah.

Pindah Sekolah dan Tantangan Baru

Dalam perjalanan kariernya, Handez beberapa kali berpindah sekolah. Bukan karena kenakalan atau ketidakcocokan, tetapi karena mengejar peluang latihan yang lebih baik. “Karena ada sistem kecurangan saat seleksi, jadi saya memutuskan pindah sekolah ke kampung,” ungkapnya jujur.

Meski situasi tersebut menyakitkan, keputusan itu justru membawanya menuju lingkungan yang lebih mendukung. Ia mendapatkan izin latihan dari sekolah dan kembali fokus mengejar prestasi.

Peralihan ke Sambo dan Peluang Besar

Tahun 2025 menjadi salah satu tahun paling menentukan. Dari seorang pegulat berpengalaman 11 tahun, Handez mendapat rekomendasi pelatih untuk mencoba Sambo, cabang beladiri dari Rusia yang menggabungkan teknik gulat, bantingan, kuncian, hingga pukulan. “Sebenarnya saya masih atlet gulat. Tapi karena ada kesempatan saja, saya pindah ke Sambo,” tuturnya.

Ia harus belajar ulang banyak hal: aturan pertandingan, sistem poin, teknik pukulan, hingga pakaian bertanding. Namun ia melihat Sambo sebagai tantangan baru yang dapat membuka jalan internasional. “Kalau sistem dan program latihan hampir sama. Tapi peraturan dan poinnya berbeda. Itu yang bikin aku sempat bingung,” katanya.

Meski hanya memiliki waktu 10 hari TC di Jawa Barat sebelum Kejuaraan Nasional, ia justru tampil impresif dan meraih medali emas Sambo Youth & Junior 2025 di Padang. Emas itu menjadi tiketnya menuju Kejuaraan Dunia Sambo Junior.

Menuju Kejuaraan Dunia: Perjuangan yang Tidak Sempurna

Persiapan menuju Kejuaraan Dunia sebenarnya tidak berjalan ideal. Ia sempat mengalami cedera sehingga latihan intensif tidak bisa dilakukan. “Persiapan ke Kejuaraan Dunia kemarin tidak ada sama sekali karena masih cedera,” ujarnya.

Suasana makin berat ketika perjalanan menuju lokasi pertandingan memakan waktu dua hari penuh. Ia tiba di negara tuan rumah saat subuh dan langsung diwajibkan menurunkan berat badan 1,6 kg hanya dalam satu hari. “Sampai sana jam 6 subuh langsung latihan mandiri. Makan pun sudah dua hari puasa untuk turunkan berat badan,” ceritanya. “Besoknya bertanding dengan perut kosong, cuma makan Pop Mie yang dibawa dari rumah. Akhirnya tenaga kurang.”

Kondisi tersebut berdampak saat ia melakukan teknik penangkapan kaki di pertandingan krusial. “Waktu menangkap kaki, saya tidak punya tenaga untuk menjatuhkannya.” Namun semua rintangan itu tidak membuatnya menyerah.

Kejuaraan Dunia: Kemenangan dan Pelajaran Berharga

Handez turun di kategori Combat Men Junior 64 kg. Ia berhasil mengalahkan atlet Maroko dan masuk semifinal menghadapi wakil Turkmenistan. Meskipun kalah, Handez tetap meraih perunggu dunia. “Senang dan bahagia akhirnya terpilih membawa nama Indonesia ke Kejuaraan Dunia,” katanya. “Walaupun kalah, ini pertama kali saya main sekelas atlet UFC. Saya anggap ini pengalaman besar.”

Lawan-lawan internasional memiliki pengalaman jauh lebih tinggi, kondisi fisik lebih matang, dan strategi lebih kompleks. “Dari segi pengalaman orang luar, mereka jauh. Saya jadi berfikir harus latihan lebih keras dari hari sebelumnya.” Baginya, perjalanan ini bukan sekadar hasil, tetapi proses belajar yang membuka mata.

Mental Juang dan Dukungan untuk Bangkit

Handez tidak pernah benar-benar jatuh. Kekecewaan justru melahirkan tekad yang lebih kuat. “Kalau kecewa iya, tapi untuk menyerah tidak. Ini pengalaman besar yang membuat saya lebih kuat,” ungkapnya. Ia juga mengingat kata-kata motivasi yang selalu ia jadikan pegangan: “Orang juara itu tidak latihan satu atau dua tahun. Tapi siapa yang disiplin walaupun sudah latihan bertahun-tahun itulah juara.”

Pelatih dan masyarakat Indonesia juga terus memberikan dukungan. “Pelatih kasih semangat lagi. Semua Indonesia mendukung saya.” Dukungan itu menumbuhkan kepercayaan diri, terutama ketika ia menyadari bahwa perjalanan ini telah membawanya melihat dunia. “Saya termotivasi karena bisa merasakan cuaca salju. Kalau tidak jadi atlet, saya tidak mendapat pengalaman sebesar ini.”

Mimpi yang Terus Berkembang

Meski sudah menorehkan prestasi dunia, Handez merasa perjalanannya baru dimulai. “Ke depannya, saya ingin persiapan lebih keras lagi. Fokus latihan Sambo dan pukulan,” katanya. Mimpinya sederhana namun kuat: “Saya ingin bisa mengibarkan bendera merah putih di negara luar.” “Semoga bisa terus berprestasi untuk Indonesia.” “Teruslah berjuang, bagaimana pun orang merendahkanmu tetap fokus pada tujuanmu.”

Dari matras kampung hingga gelanggang dunia, Handez membuktikan bahwa perjalanan besar tidak membutuhkan awal yang mewah. Yang dibutuhkan hanyalah tekad, kerja keras, dan keberanian untuk terus melangkah meski sering terjatuh. (Bellya Darma Sari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Backbiome is an advanced daily wellness supplement formulated to help support spinal comfort, reduce feelings of built-up tension, and promote freer, smoother movement throughout backbiome everyday life.