Pentingnya Sikap Saling Hormat Menghormati, Serta Teloransi Antar Umat Beragama.

 

Boalemo – (SIN) – Pentingnya sikap saling hormat-menghormati antar pemeluk agama. Indonesia di kenal dengan keanekaragaman agama, suku, dan budaya. Bercerita tentang agama, hindu adalah salah satu agama yang diakui di Indonesia. Kini umat beragama Hindu nyaris merata dan ada di setiap Provinsi. Meski beda agama, satu sama lain menjunjung tinggi toleransi yakni saling menghargai dan menghormati.

Seperti yang terjadi pada masyarakat di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Di sana mayoritasnya berasal dari kota Bali bertransmigrasi ke kota Gorontalo pada era 80-an, dan mampu hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama lain, sepasti Muslim yang jadi mayoritas.

“Tepat di hari, Rabu (4/1/ 2023), di Desa Bongo IV yang sebagian besar penduduknya beragama hindu merayakan Hari Raya Galungan. Penganut Agama Hindu memaknai Hari Raya Galungan sebagai hari kemenangan atau mereka sebut “Dharma melawan Adharma” yang berarti Kebaikan melawan Kejahatan.

Hari Raya yang diadakan setahun 2 kali ini membuat antusiasme warga penganut agama Hindu di Desa Bongo IV kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo ini berlomba-lomba mempersiapkan untuk perayaan hari raya Galungan. Salah satunya, Iwayan Widarmanayasa. Pemuda kelahiran 1995 ini pada saat ditemui di kediamannya di Desa Bongo IV kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo ini tengah membuat Penjor yang menjadi syarat wajib di acara Hari Raya Galungan.

Di dalam keagamaan Hindu Penjor merupakan lambang dari Naga Basuki yang memiliki arti sejahtera dan makmur. Penjor terdiri dari bambu panjang yang ujungnya melengkung ke bawah, di baluti dengan daun kelapa, daun enau yang masih muda,dan di hiasi berbagai bunga dan hasil perkebunan seperti buah kelapa, pisang, nenas dan lainnya.selain itu pria yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan di perkebunan sawit itu telah mempersiapkan makanan dan minuman yang nantinya akan di sajikan kepada sanak saudara dan kerabat yang berkunjung di rumahnya.

“Setelah sembahyang pagi di pura kami biasanya pesiar ( berkunjung ) ke rumah keluarga, dan di sore hari rekan kerja saya pun berdatangan ke rumah saya,silaturahmi dan makan – makan” tuturnya. Dia pun berharap di pengawal tahun 2023 dan di perayaan Galung kali ini semoga Tuhan menjauhkan kita dari bencana dan selalu di berikan kemuliaannya.

 

(M. Qayyum)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *