Tenun Tanimbar Wabup Berbicara: Kain Tradisi Jadi Pernyataan di HUT ke-81 Provinsi Maluku

Kota Ambon – (SIN) – Kain tenun Tanimbar tak sekadar menjadi pelengkap busana dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Provinsi Maluku. Di Lapangan Merdeka, Ambon, Rabu,(19/8/2026) kain tradisional dari Bumi Duan Lolat itu tampil sebagai pernyataan tentang identitas, kreativitas, dan kebanggaan daerah.

Nuansa Tanimbar terasa kuat ketika Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sheren Amelinda Jauwerissa, menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Provinsi Maluku. Keduanya mengenakan busana adat Tanimbar lengkap.

Di tengah tema perayaan, “Maluku Bersatu Maju Membangun Negeri”, busana tersebut menjadi salah satu sorotan. Motif tenun Tanimbar yang melekat pada pakaian bukan sekadar ornamen. Ia membawa simbol budaya yang selama ini hidup dalam masyarakat kepulauan di ujung tenggara Maluku.

Yang menarik, kain tenun yang dikenakan Gubernur Maluku bersama Ketua TP-PKK Provinsi Maluku juga berasal dari Tanimbar. Kain tersebut merupakan hasil kreasi tangan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak.

Dari tangan wakil kepala daerah itu, tenun tradisional kemudian menemukan ruang baru: bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai karya kreatif yang dapat tampil dalam panggung resmi pemerintahan.

Kain tersebut selanjutnya dirancang dan dijahit oleh Yunita Marla, desainer sekaligus penjahit lokal yang berdomisili di Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan.

Perjalanan kain itu menjadi menarik. Berawal dari tradisi menenun yang diwariskan lintas generasi, kemudian diolah menjadi busana, dan akhirnya tampil dalam perayaan tingkat provinsi.

Di titik itu, tenun Tanimbar berbicara lebih jauh daripada sekadar mode.

Ia memperlihatkan bagaimana kebudayaan lokal dapat menjadi bagian dari diplomasi identitas daerah. Karya tangan masyarakat Tanimbar mendapat panggung di tengah perayaan Maluku yang dihadiri para pejabat dan tamu undangan dari berbagai daerah.

Bagi Tanimbar, momentum tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas lokal tidak harus berhenti di kampung halaman. Dengan sentuhan desain dan inovasi, produk budaya dapat masuk ke ruang-ruang publik yang lebih luas.

Tenun Tanimbar pun tak lagi sekadar kain yang diwariskan. Di tangan para pengrajinnya, desainer lokal, dan mereka yang ikut merawatnya, kain itu berubah menjadi medium untuk memperkenalkan Tanimbar kepada Maluku dan Indonesia.

Peringatan HUT ke-81 Provinsi Maluku akhirnya bukan hanya tentang usia sebuah provinsi. Di Lapangan Merdeka Ambon, kain dari Tanimbar ikut mengingatkan bahwa persatuan dan pembangunan juga membutuhkan satu hal yang kerap terlupakan: menjaga identitas budaya dari daerah-daerah yang membentuk wajah Maluku.

(DP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *