Kronologi Adrianus Wungo: Enam Hari yang Berujung Kematian

Badung – (SIN) – Enam hari setelah keributan terjadi di sebuah mess pekerja proyek di kawasan Sawangan, Kabupaten Badung, Bali, Adrianus Wungo akhirnya meninggal dunia. Peristiwa yang semula disebut sebagai keributan antar pekerja itu kini masuk ke tahap penyelidikan polisi setelah salah satu korban meninggal.

Adrianus, pekerja proyek asal Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur sebelumnya mengalami sejumlah luka dan menjalani perawatan di rumah sakit. Polisi kini memeriksa sejumlah orang untuk mengurai siapa yang terlibat dan bagaimana rangkaian peristiwa tersebut hingga berujung pada kematian.

Berikut kronologi yang berhasil dihimpun dari keterangan kepolisian dan laporan sejumlah media:

6 September 2026: Keributan Pecah di Mess Pekerja

Peristiwa terjadi sekitar pukul 23.00 Wita di Mess Buruh PT Tunas Jaya Sanur, Lingkungan Sawangan, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Menurut hasil pengumpulan bahan keterangan awal kepolisian yang dikutip media, keributan bermula ketika petugas keamanan PT Tunas Jaya Sanur, I Kadek Teguh Rupadana, melakukan patroli di area bedeng buruh.

Petugas disebut mendengar suara pukulan pada dinding seng di sekitar toilet. Seorang pekerja kemudian ditegur. Teguran tersebut berkembang menjadi cekcok.

Situasi kemudian memanas. Dalam keterangan awal yang dihimpun polisi, seorang pekerja lain diduga datang dari lantai II dengan membawa pisau dan menodongkannya kepada petugas keamanan.

Keributan pun meluas dan melibatkan sejumlah orang.

Dalam insiden tersebut, beberapa pekerja mengalami luka. Adrianus Wungo dilaporkan mengalami luka pada bagian bibir, mata, pipi, tangan kanan, dan kaki kiri. Dua pekerja lain, Rafael Buku Bani dan Fransiskus Rangga Mone, juga dilaporkan mengalami luka di sejumlah bagian tubuh.

Polisi kemudian mengamankan satu pisau dan dua potongan besi pipa sebagai barang bukti. Para korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

7–9 September: Adrianus Menjalani Perawatan

Setelah kejadian, Adrianus menjalani perawatan medis akibat luka yang dialaminya.

Pada tahap ini, salah satu pertanyaan penting yang masih membutuhkan penjelasan resmi adalah bagaimana perkembangan kondisi Adrianus selama menjalani perawatan dan apa diagnosis medis terhadap luka-luka tersebut.

Hal ini menjadi penting karena hubungan antara luka akibat peristiwa 6 September dan penyebab kematian Adrianus nantinya harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis, bukan semata berdasarkan dugaan atau keterangan pihak-pihak yang terlibat.

10 September: Laporan Masuk ke Polisi

Perkara kemudian bergerak ke ranah hukum.

Menurut laporan Balinetizen, pihak korban membuat laporan pengaduan ke SPKT Polsek Kuta Selatan pada Kamis, 10 September 2026 sekitar pukul 21.30 Wita.

Satreskrim Polresta Denpasar bersama Polsek Kuta Selatan kemudian melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut.

11 September: Polisi Turun Mengecek TKP

Sehari setelah laporan pengaduan, jajaran Polresta Denpasar dan Polsek Kuta Selatan melakukan pengecekan tempat kejadian perkara.

Wakapolresta Denpasar AKBP I Ketut Widhiarta bersama Kasat Reskrim, Kasat Intelkam, dan sejumlah personel mendatangi lokasi.

Polisi meminta keterangan dari saksi serta pihak manajemen PT Tunas Jaya Sanur.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurai kembali rangkaian kejadian dan mencari pihak yang diduga bertanggung jawab atas keributan.

Pada saat itu, polisi masih menyatakan perkara dalam tahap penyelidikan.

12 September: Adrianus Meninggal Dunia

Perkembangan paling serius terjadi pada Sabtu, 12 September 2026.

Adrianus dilaporkan meninggal dunia sekitar pukul 19.30 Wita setelah sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit.

Jenazah Adrianus kemudian berada di kamar jenazah RSUP Prof. dr. I.G.N.G Ngoerah atau RSUP Sanglah, Denpasar.

Menurut laporan Balinetizen, keluarga Adrianus melalui ayah kandung korban mengajukan permohonan agar dilakukan autopsi. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui secara medis penyebab kematian korban.

Polisi Periksa 11 Orang

Setelah Adrianus meninggal, penyelidikan polisi memasuki babak baru.

Polisi disebut telah mengamankan 11 orang untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya mengatakan penyidik masih mendalami rangkaian kejadian serta pihak-pihak yang diduga terlibat.

Polisi juga masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan proses autopsi terhadap jenazah Adrianus.

Enam Hari, Sejumlah Pertanyaan Masih Terbuka

Dari rangkaian peristiwa tersebut, ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab secara tuntas.

Siapa sebenarnya yang pertama melakukan kekerasan?

Berapa orang yang terlibat langsung dalam perkelahian?

Apakah Adrianus merupakan korban pengeroyokan, atau terdapat rangkaian peristiwa lain sebelum dirinya mengalami luka?

Mengapa sejumlah pekerja mengalami luka di bagian tubuh yang berbeda?

Apakah seluruh CCTV di sekitar mess telah diamankan dan diperiksa penyidik?

Apa hasil visum dan autopsi terhadap Adrianus?

Dan yang paling penting, apakah kematian Adrianus secara medis memiliki hubungan langsung dengan luka yang dialaminya dalam keributan pada 6 September?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya melalui keterangan sepihak.

Keluarga Adrianus sebelumnya meminta Polresta Denpasar dan Polda Bali memberikan perkembangan perkara secara resmi melalui SP2HP. Keluarga juga meminta proses hukum berjalan transparan dan tidak ada pihak yang diperlakukan berbeda.

Menunggu Jawaban Penyidik

Kematian Adrianus mengubah perkara ini dari sekadar kasus keributan menjadi perkara yang harus diurai secara lebih serius.

Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, memeriksa saksi, mendatangi lokasi, serta memeriksa 11 orang. Namun, sampai tahap ini perkara masih dalam proses penyelidikan dan belum ada kesimpulan hukum mengenai siapa yang bertanggung jawab.

Hasil pemeriksaan medis dan autopsi akan menjadi bagian penting untuk menjawab penyebab kematian Adrianus.

Di titik inilah publik menunggu satu hal: bukan sekadar siapa yang berada di lokasi, tetapi apa sebenarnya yang terjadi pada malam 6 September hingga seorang pekerja akhirnya kehilangan nyawa.

Adrianus Wungo kini telah meninggal. Yang tersisa adalah kewajiban untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa di mess pekerja Sawangan terungkap berdasarkan bukti, bukan rumor.

(Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *