Kepulauan Tanimbar – (SIN) – Selama bertahun-tahun, nama Kepulauan Tanimbar nyaris tak pernah terdengar dalam daftar kontingen Jambore Nasional. Keterbatasan anggaran, jauhnya akses dari wilayah kepulauan, hingga belum optimalnya pembinaan kepramukaan membuat daerah di ujung selatan Maluku itu seperti kehilangan jejak di panggung nasional.
Akhir pekan lalu, keadaan itu berubah.
Di Pendopo Kediaman Bupati, Minggu, (2/8/2026), Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar dr. Juliana Ch. Ratuanak, MKM secara resmi melepas kontingen Pramuka Penggalang menuju Jambore Nasional XII di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta.
Pelepasan itu menjadi penanda berakhirnya penantian panjang Tanimbar untuk kembali mengirimkan wakilnya ke pertemuan Pramuka terbesar di Indonesia.
Seremoni berlangsung sederhana. Doa bersama dipanjatkan, laporan kesiapan kontingen dibacakan, lalu dr. Juliana menyerahkan tunggul bendera Pramuka kepada perwakilan peserta. Namun, makna acara itu jauh melampaui prosesi seremonial.
Pemerintah daerah sedang mengirim pesan bahwa pembinaan generasi muda mulai kembali ditempatkan sebagai investasi jangka panjang.
“Selamat berjuang adik-adik Pramuka Tanimbar. Bawa semangat Duan Lolat, junjung tinggi disiplin, kekompakan, dan rasa cinta tanah air. Nama baik Tanimbar ada di pundak kalian,” kata dr.Juliana dalam sambutannya.
Pesan itu tidak berlebihan. Bagi kontingen Tanimbar, Jambore Nasional bukan sekadar agenda perkemahan. Mereka datang membawa identitas daerah yang selama puluhan tahun tidak hadir dalam arena tersebut.
Di Cibubur nanti, mereka akan bertemu ribuan Pramuka Penggalang dari seluruh Indonesia, mengikuti pelatihan kepemimpinan, pendidikan karakter, keterampilan, hingga kegiatan kebangsaan.
Momentum ini sekaligus menjadi cermin perjalanan pembinaan kepramukaan di Kepulauan Tanimbar. Keikutsertaan pada Jambore Nasional selama ini terputus cukup lama. Akibatnya, kesempatan generasi muda daerah untuk belajar, bertukar pengalaman, dan membangun jejaring di tingkat nasional ikut terhambat.
Kini pemerintah daerah berupaya memutus mata rantai itu. Kembalinya kontingen ke Jambore Nasional dipandang sebagai langkah awal membangun kembali tradisi pembinaan Pramuka yang berkesinambungan, bukan sekadar mengirim peserta pada satu kegiatan seremonial lima tahunan.
Di hadapan para orang tua, pengurus Kwartir Cabang, serta pimpinan organisasi perangkat daerah yang hadir, Wakil bupati mengingatkan bahwa keberhasilan kontingen tidak hanya diukur dari penghargaan yang diraih. Yang lebih penting adalah nilai disiplin, kepemimpinan, dan kemandirian yang dibawa pulang untuk ditularkan kepada generasi muda lainnya.
Bagi Tanimbar, perjalanan menuju Cibubur adalah lebih dari sekadar perjalanan ratusan mil laut dan udara. Ia menjadi simbol bahwa daerah kepulauan ini mulai kembali membuka ruang bagi anak-anak mudanya untuk tampil di tingkat nasional.
Setelah puluhan tahun menghilang dari peta Jambore Nasional, Tanimbar akhirnya kembali mengibarkan panji Pramuka,membawa harapan bahwa jeda panjang itu tidak akan terulang lagi.
(DP)






