Warga Sukaluyu Menjerit ! Periuk Nasi Terancam Akibat Ulah Oknum HRD PT OCHIAI

Karawang–Jabar – (SIN) – Jeritan warga Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawabarat, menggema dengan adanya ancaman pemutusan kontrak antara PT OCHIAI dan PT BSS, perusahaan penyedia jasa keamanan yang selama ini menjadi tumpuan hidup ratusan kepala keluarga di desa tersebut.

Warga merasa hak hidup mereka diinjak–injak oleh kebijakan sepihak yang dituding dilakukan oknum HRD PT OCHIAI. Menyikapi hal ini, seluruh elemen masyarakat Desa Sukaluyu, didukung penuh oleh Karangtaruna se–Kecamatan Telukjambe Timur, menggelar rapat darurat di warung Sukaluyu Bahagia, Senin (2/6–2025).

Agenda ini menjadi titik awal persiapan aksi damai besar–besaran yang akan digelar selama dua hari, Selasa–Rabu (3–4 Juni 2025), dengan longmarch dari Lapangan Badung Saidah menuju gerbang PT OCHIAI di kawasan industri Karawang Timur.

Bukan sekadar aksi, ini adalah teriakan nurani masyarakat yang selama ini bisa lebih menggantungkan hidupnya dari PT BSS.

“Kami bukan mau ribut. Kami hanya ingin menyelamatkan periuk nasi kami yang terancam dipukul mundur oleh keputusan sepihak. PT BSS ini bukan cuma perusahaan, tapi harapan hidup kami,” tegas M. Zaenudin, tokoh masyarakat yang menjadi koordinator rapat.

Zaenudin menyebut, sangat banyak kepala keluarga di Desa Sukaluyu bekerja melalui PT BSS. Tanpa PT BSS, desa ini kehilangan denyut ekonominya. Bahkan, kata dia, warga dengan sukarela merogoh kocek sendiri untuk membiayai konsumsi dan logistik aksi, ini sebuah bentuk solidaritas yang lahir dari luka bersama.

“Kalau bukan karena sangat berarti, tidak mungkin warga sampai iuran, masak sendiri, dan siap berpanas–panasan demi mempertahankan haknya. Ini soal hidup. Soal anak–anak kami bisa sekolah atau tidak. Soal bisa makan besok atau tidak,” ujarnya dengan nada penuh emosi.

Warga juga menuding adanya sikap arogan dari oknum HRD PT OCHIAI yang dinilai tidak memiliki sensitivitas sosial terhadap warga lokal. Padahal, PT OCHIAI berdiri di atas tanah Karawang yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.

“Kehadiran PT BSS itu nyata terasa. Mereka bantu warga saat banjir, jadi mitra dalam kegiatan keagamaan dan sosial, dan membuka lapangan kerja di tengah sulitnya cari pekerjaan. Kalau PT OCHIAI benar–benar putus kontrak, itu sama saja membunuh kami pelan–pelan,” lanjut Zaenudin.

Bukan hanya warga Sukaluyu yang berteriak, Ketua Karangtaruna Kecamatan Telukjambe Timur, Asep Ruhiyat, juga angkat suara. Ia hadir bersama seluruh Ketua Karangtaruna Desa se–Kecamatan dalam rapat tersebut, dan menyatakan sikap tegas membela warga.

“Kami tidak bisa diam. Kami tahu siapa yang benar–benar peduli pada rakyat kecil.PT BSS sudah terbukti berpihak pada warga. Kami akan berdiri di garis depan membela warga Sukaluyu,” ujarnya lantang.

Aksi damai ini rencananya akan dikawal oleh elemen pemuda, tokoh masyarakat, dan relawan sosial yang ingin menyuarakan keadilan. Mereka menegaskan bahwa aksi dilakukan dengan tertib, namun akan berlangsung selama dua hari penuh hingga pihak PT OCHIAI memberikan klarifikasi resmi dan solusi nyata atas nasib ratusan pekerja yang terancam kehilangan penghasilan.

Kami masih mencoba menghubungi pihak PT OCHIAI untuk meminta klarifikasi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari manajemen.

Di tengah hiruk–pikuk industrialisasi Karawang, suara warga Sukaluyu mengingatkan bahwa pembangunan tak akan berarti bila mengabaikan hak hidup masyarakat lokal. Mereka mungkin tak bersuara lantang di ruang–ruang kekuasaan, tapi ketika hak mereka diganggu, solidaritas menjadi senjata terakhir.

Kabiro(SIN)Karawang–Jabar
(T.S)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *