Kepulauan Tanimbar – (SIN) – Suara tifa membuka keramaian di Lapangan Upacara Larat, Jumat pagi, (7/8/2026). Tak lama kemudian, jalan utama Kota Larat dipenuhi warga. Mereka berjalan, berarak, dan membawa beragam simbol budaya Tanimbar dalam sebuah pesta rakyat menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ribuan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Tanimbar Utara mengikuti Karnaval Budaya dan Jalan Santai Berhadiah. Busana adat, atraksi seni, dan kekayaan tradisi lokal menjadi bagian dari parade yang bergerak mengelilingi ruas utama Kota Larat.
Kegiatan itu dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Brampi Moriolkossu, S.H. Ia datang bersama Camat Tanimbar Utara, jajaran Muspika, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, kepala sekolah, dan tamu undangan.
Sebelum warga bergerak ke jalan, rangkaian acara dimulai di lapangan. Ketua panitia menyampaikan laporan, disusul pembacaan sambutan tertulis Bupati Kepulauan Tanimbar oleh Sekda. Moriolkossu kemudian memukul tifa sebagai penanda pembukaan. Lagu Padamu Negeri dan doa bersama mengiringi awal perayaan.
Setelah itu, Moriolkossu melepas peserta. Barisan warga perlahan meninggalkan lapangan dan memenuhi jalan-jalan kota Larat. Dari satu rombongan ke rombongan lain, identitas budaya Tanimbar ditampilkan dalam bentuk pakaian adat dan kesenian.
Karnaval tersebut bukan sekadar parade untuk memeriahkan bulan kemerdekaan. Bagi pemerintah daerah, perayaan itu menjadi ruang untuk mempertemukan warga sekaligus merawat persaudaraan di tengah keberagaman desa di Tanimbar Utara.
Brampi Moriolkossu mengatakan kemerdekaan harus dimaknai lebih jauh dari sekadar seremoni tahunan. Menurut dia, peringatan HUT ke-81 RI merupakan momentum untuk memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan masyarakat.
“Momen peringatan HUT ke-81 RI ini hendaknya kita jadikan sebagai sarana memperkuat persatuan, menjaga persaudaraan dan kerukunan antarwarga, serta bersama-sama mendukung percepatan pembangunan daerah. Mari kita terus rawat kondusivitas, keamanan, dan ketertiban di wilayah ini,” kata Moriolkossu.»
Di sepanjang rute, warga menyaksikan iring-iringan yang membawa wajah budaya Tanimbar ke ruang publik. Tradisi tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi bergerak bersama masyarakat dalam sebuah perayaan kemerdekaan.
Di titik akhir, Lapangan Upacara Larat kembali dipenuhi warga. Mereka berkumpul setelah menyelesaikan rute jalan santai dan karnaval.
Di Tanimbar, semangat Duan Lolat bukan sekadar ungkapan tentang persaudaraan. Dalam perayaan itu, ia tampak dalam cara warga dari berbagai desa berkumpul, berjalan bersama, dan membawa identitas budaya masing-masing dalam satu barisan.
Merah Putih menjadi simbol utama perayaan. Namun di jalan-jalan Kota Larat, budaya Tanimbar ikut mengambil ruang. Keduanya bertemu dalam satu perayaan: kemerdekaan Indonesia dan identitas masyarakat yang menjaganya tetap hidup.
(DP)






