Tidak Bisa Dipungkiri Produk Dari Wartawan Adalah Berita.

 

Metro Lampung – (SIN) – Jangan mengaku-ngaku seorang wartawan kalau tidak mempunyai karaya jurnalistiknya, wartawan itu menyalurkan karyanya tulisnya di media cetak, online dan Tv. Tidak bisa dipungkiri kalau produk dari wartawan itu adalah berita.

Namun miris masih ada oknum yang mengaku-ngaku kalau dirinya seorang wartawan tetapi tidak ada karya jurnalisnya. Hal ini kemungkinan besar akan menimbulkan polemik bagi wartawan yang aktif mencari berita, dan yang mempunyai karya jurnalist yang didapatnya melalui tahapan. Ada terdapat tiga tahapan, yakni wawancara, observasi dan juga melakukan dokumentasi.

“Wawancara dilakukan untuk mengetahui secara runtutan bagaimana peristiwa tersebut terjadi, kemudian jika ada korban, wartawan itu juga akan mendapatkan informasi mengenai datanya dan seterusnya. Lalu, observasi lapangan dilakukan dengan tujuan agar wartawan juga dapat mengamati secara langsung bagaimana keadaan di sekitar, ini juga akan membantu wartawan dalam menggambarkan lokasi sekitar dalam membuat berita.

Kemudian, wartawan juga perlu melakukan dokumentasi, proses ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang berasal dari sumber lain seperti, arsip atau dokumen penting lainnya yang menunjang suatu peristiwa yang akan dimuat di medianya.

SAMIDI, REDAKTUR MEDIA CETAK DAN ONLINE SUARA INVESTIGASI NEWS (SIN).

Saya perlu sampaikan wartawan itu diharuskan paham, pengertian dari 5W 1H dalam penulisan suatu berita dan contohnya. “Urutan 5W 1H.

1.What : Apa yang terjadi?

2.Who : Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu?

3.Why : Mengapa hal itu bisa terjadi?

4.When : Kapan peristiwa itu terjadi?

5.Where : Di mana peristiwa itu terjadi?

How : Bagaimana peristiwa itu terjadi?

Dengan memenuhi semua unsur 5W 1H, pokok informasi dalam penulisan berita akan jauh lebih lengkap. “Untuk memudahkan menghapal dalam bahasa Indonesia, 5W 1H dikenal dengan singkatan Adiksimba yang merupakan kependekan dari apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana.

Jurnalisme investigasi ini pekerjaan yang perlu kehati-hatian dalam mengungkap fakta. Kegiatannya mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita yang bersifat investigatif, atau sebuah penelusuran panjang dan mendalam terhadap sebuah kasus yang dianggap memiliki kejanggalan. Selain itu, investigasi merupakan penelusuran terhadap kasus yang bersifat rahasia. Sebuah kasus dapat diketahui kerahasiaannya apabila penelusuran terhadap kasus tersebut selesai dilakukan. Kata jurnalisme investigasi sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu journal dan vestigium. Journal atau diurnalis berarti orang yang melakukan kegiatan jurnalistik, dan vestigium yang berarti jejak kaki.

Jurnalisme investigasi menghasilkan sebuah karya jurnalistik, yaitu laporan investigasi. Laporan investigasi sebagai sebuah karya jurnalistik tidak ditentukan oleh besarnya kasus yang dibongkar, melainkan manfaat atau dampak apa yang ditimbulkan setelah kasus tersebut terbongkar. Penelusuran sebuah topik yang ringan dapat dikatakan produk investigasi yang baik apabila mengungkap fakta bernilai besar bagi khalayak.

Laporan investigasi dalam pelaksanaannya membutuhkan modal yang banyak, terlebih apabila topik yang dipilih bersifat kompleks. Maka sebelum membuat konsep acuan, perlu ada riset awal, wawancara, dan observasi di lapangan. Perencanaan yang matang sangat dibutuhkan agar penelusuran dapat berjalan dengan baik, selain itu penyamaran dan koordinasi terutama bagi jurnalis televisi harus dilakukan dengan baik. Dalam hal ini seorang jurnalis juga dituntut untuk memiliki sifat skeptis atau ragu-ragu terhadap setiap fakta yang diperoleh, sehingga fakta tersebut akan terus digali hingga sampai ke akar permasalahan.

Pada intinya, tujuan utama dari jurnalisme investigasi adalah mengungkap kesaksian dan bukti secara fisik dari suatu persoalan yang kontroversial. Jurnalisme investigasi lebih menekankan pada upaya mengungkap fakta yang sebelumnya tersembunyi dari publik. Karena itu, proses kerja jurnalis dalam liputan investigasi ini laksana detektif yang mengendus informasi tersembunyi dari banyak sisi dan mengungkapkannya.

Kesimpulan jangan ciderai dan kotori nama Jurnalis/ Wartawan itu, dengan mengaku seorang wartawan tetapi tidak ada karya jurnalis yang dituangkan dalam media cetak, online. Cari saja pekerjaan yang lain daripada mengaku wartawan tetapi tidak ada produk berita yang ditayangkan.

 

Catatan: (SAMIDI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *